Portofolio Pribadi 01

 Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Vokasi)

 


Dalam konteks taksonomi bloom, yang membagi aspek capaian pembelajaran menjadi 3 yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, seberapa besar porsi masing-masing aspek dalam penyelenggaraan SMK, agar dapat dihasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan?

Agar dapat menghasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan oleh satuan pendidikan memang diperlukan sebuah strategi yang harus diprogramkan oleh sekolah, dalam hal ini berfokus kepada lulusan yang mampu diserap oleh DUDI, pada materi mata kuliah ini disebutkan bahwa sekolah harus mampu mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki 4 aspek yaitu :

1.    Wawasan Kerja

2.    Keterampilan Teknis Bekerja

3.    Employabilitu Skills

4.    Transformasi Diri Terhadap Perubahan Tuntutan Dunia Kerja

 

Aspek diatas dapat menjadi pilihan landasan sekolah untuk melakukan program yang berpihak kepada peserta didik, adapun program yang dapat ditempuh oleh sekolah, telah disebutkan di materi kuliah ini, yaitu dengan melalui penyelenggaraan TVET diantaranya dimulai dari lingkup terkecil yaitu pembelajaran di kelas, pembelajaran praktik di bengkel amupun laboratorium, kemudian setelah mendapatkan pengetahuan dan praktik peserta didik dibimbing untuk belajar pada level teaching factory (TEFA) dan dunia kerja (DUDI) untuk memperoleh pengalaman kerja baik di sisi produksi, budaya di tempat kerja maupun berinterkasi dengan konsumen, setelah itu peserta didik mengikuti pendidikan sistem ganda atau biasa disebut dengan PRAKERIN (Praktik Kerja Industri) untuk menambah pengalaman untuk terjun langsung di dunia kerja, peserta didik akan memeroleh banyak pengalaman di tempat kerja dan akan meningkatkan kemapuan kompetensinya, dengan kompetensi yang diperoleh maka perlu adanya pengakuan atas skills nya melalui dengan uji kompetensi yang dapat diselenggarakan oleh DUDI atau LSP.

 

Dengan demikian satuan pendidikan SMK diharuskan menghasilkan output/alimni yang siap kerja dan cakap bekerja di DUDI. Sehingga dikaitkan dengan konteks taksonomi bloom khususnya di SMK maka dari ke 3 aspek prosentasenya berimbang dan saling melangkapi satu sama yang lainya dan memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanannya, adapun jabaran dari ke 3 aspek adalah sebagai berikut :

1.  Aspek kognitif, siswa di SMK diharapkan memiliki kompetensi berpikir tingkat tinggi dan dapat memahami serta menerapkan konsep-konsep teori yang relevan dengan bidang keahlian yang dipelajari.

2.  Aspek afektif, siswa diharapkan dapat memiliki kompetensi perilaku dan sikap yang positif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Afektif ini meliputi kemampuan siswa dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang positif seperti tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, inisiatif, dan etika dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja.

3.   Aspek Psikomotorik ini meliputi kemampuan siswa dalam menghasilkan produk atau layanan yang memadai dan berkualitas serta kemampuan dalam menjalankan tugas-tugas teknis dan mekanis yang diperlukan dalam bidang keahlian mereka.

 

Model penyelenggaraan PTK seperti apa yang cocok untuk Indonesia?

Model Penyelenggarakan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) dapat dilandaskan dari definisi pendidikan Kejuruan yang ada di materi mata kuliah ini, yaitu salah satunya Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu (PP 29 tahun 1990 Pasal 1 ayat 3), yang kemudian dari definisi tersebut sehingga terbentuknya elemen kompetensi pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan diantarnya : Kebutuhan masyarakat (societal needs), Kebutuhan dunia kerja (industrial needs), Kebutuhan profesional (professional needs), Kebutuhan generasi masa depan ( vision) dan Kebutuhan ilmu pengetahuan (scientific).

 

Diperlukan sebuah struktur kurikulum pendidikan kejuruan untuk menjadikan pedoman kerja bagi pihak pendidik atau guru dan satuan pendidikan. Kurikulum tersebut dikembangkan oleh pemerintah melalui mentri pendidikan, kebudayaan, reset dan teknologi yang terus mengembangkan struktur kurikulum sesuai dengan kodrat zaman. Ditambah dengan pemerintah melaksanakan link and match dengan DUDI sehingga kurikulum dapat diadopsi sesuai dengan standar DUDI.