Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Vokasi)
Dalam konteks taksonomi bloom, yang membagi aspek capaian pembelajaran menjadi 3 yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, seberapa besar porsi masing-masing aspek dalam penyelenggaraan SMK, agar dapat dihasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan?
Agar
dapat menghasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan oleh satuan pendidikan
memang diperlukan sebuah strategi yang harus diprogramkan oleh sekolah, dalam
hal ini berfokus kepada lulusan yang mampu diserap oleh DUDI, pada materi mata
kuliah ini disebutkan bahwa sekolah harus mampu mengembangkan potensi peserta didik
agar memiliki 4 aspek yaitu :
1.
Wawasan
Kerja
2.
Keterampilan
Teknis Bekerja
3.
Employabilitu
Skills
4.
Transformasi
Diri Terhadap Perubahan Tuntutan Dunia Kerja
Aspek
diatas dapat menjadi pilihan landasan sekolah untuk melakukan program yang
berpihak kepada peserta didik, adapun program yang dapat ditempuh oleh sekolah,
telah disebutkan di materi kuliah ini, yaitu dengan melalui penyelenggaraan TVET
diantaranya dimulai dari lingkup terkecil yaitu pembelajaran di kelas,
pembelajaran praktik di bengkel amupun laboratorium, kemudian setelah
mendapatkan pengetahuan dan praktik peserta didik dibimbing untuk belajar pada
level teaching factory (TEFA) dan dunia kerja (DUDI) untuk memperoleh
pengalaman kerja baik di sisi produksi, budaya di tempat kerja maupun berinterkasi
dengan konsumen, setelah itu peserta didik mengikuti pendidikan sistem ganda
atau biasa disebut dengan PRAKERIN (Praktik Kerja Industri) untuk menambah
pengalaman untuk terjun langsung di dunia kerja, peserta didik akan memeroleh
banyak pengalaman di tempat kerja dan akan meningkatkan kemapuan kompetensinya,
dengan kompetensi yang diperoleh maka perlu adanya pengakuan atas skills nya
melalui dengan uji kompetensi yang dapat diselenggarakan oleh DUDI atau LSP.
Dengan
demikian satuan pendidikan SMK diharuskan menghasilkan output/alimni yang siap
kerja dan cakap bekerja di DUDI. Sehingga dikaitkan dengan konteks taksonomi
bloom khususnya di SMK maka dari ke 3 aspek prosentasenya berimbang dan saling
melangkapi satu sama yang lainya dan memerlukan perhatian khusus dalam
pelaksanannya, adapun jabaran dari ke 3 aspek adalah sebagai berikut :
1. Aspek
kognitif, siswa di SMK diharapkan memiliki kompetensi berpikir tingkat tinggi
dan dapat memahami serta menerapkan konsep-konsep teori yang relevan dengan
bidang keahlian yang dipelajari.
2. Aspek
afektif, siswa diharapkan dapat memiliki kompetensi perilaku dan sikap yang
positif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Afektif ini meliputi
kemampuan siswa dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang positif seperti
tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, inisiatif, dan etika dalam
berinteraksi dengan lingkungan kerja.
3. Aspek
Psikomotorik ini meliputi kemampuan siswa dalam menghasilkan produk atau
layanan yang memadai dan berkualitas serta kemampuan dalam menjalankan
tugas-tugas teknis dan mekanis yang diperlukan dalam bidang keahlian mereka.
Model penyelenggaraan PTK seperti apa yang cocok untuk Indonesia?
Model Penyelenggarakan
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) dapat dilandaskan dari definisi
pendidikan Kejuruan yang ada di materi mata kuliah ini, yaitu salah satunya Pendidikan
Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan
kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu (PP 29 tahun 1990
Pasal 1 ayat 3), yang kemudian dari definisi tersebut sehingga terbentuknya
elemen kompetensi pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan pemangku
kepentingan diantarnya : Kebutuhan masyarakat (societal needs), Kebutuhan dunia
kerja (industrial needs), Kebutuhan profesional (professional needs), Kebutuhan
generasi masa depan ( vision) dan Kebutuhan ilmu pengetahuan (scientific).
Diperlukan sebuah
struktur kurikulum pendidikan kejuruan untuk menjadikan pedoman kerja bagi
pihak pendidik atau guru dan satuan pendidikan. Kurikulum tersebut dikembangkan
oleh pemerintah melalui mentri pendidikan, kebudayaan, reset dan teknologi yang
terus mengembangkan struktur kurikulum sesuai dengan kodrat zaman. Ditambah
dengan pemerintah melaksanakan link and match dengan DUDI sehingga kurikulum dapat
diadopsi sesuai dengan standar DUDI.
