Portofolio Pribadi 05

Prinsip Dasar Pembelajaran PTK


Pendidikan dapat dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan keterampilan, dapat diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga pola hidup pribadi dan sosial memuaskan. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap diri individu serta kebudayaan suatu masyarakat.

Menurut Dictionary of Education, Pendidikan adalah:

1. Proses yang dialami seseorang dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana ia hidup.

2. Proses sosial di mana seseorang terpengaruh oleh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, khususnya yang datang dari sekolah, sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan individu yang optimum.

Pendidikan diharapkan dapat dikembangkan sesuai dengan kodrat zaman dan alam, Khususnya di Indonesia sebagai Negara yang berkembang, sektor pendidikan merupakan sektor yang penting untuk menunjang SDM yang berkarakter dan berkompeten di bidangnya. Pasca pandemi yang melanda Indonesia selama kurang lebih tiga tahun membuat berbagai komponen kehidupan mengalami penurunan, salah satunya di aspek Pendidikan, Indonesia harus segera merespon itu dengan cepat dan memiliki strategi yang terukur dan akurat untuk memulihkan kembali keadaan.

Program yang sedang dijalankan oleh Kementrian Penidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yaitu menciptakan kurikulum merdeka yang di dalamanya terdapat program-program yang telah di rancang. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran berpihak kepada murid dan berpusat kepada murid dengan menambahkan mata pelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang memberikan penguatan-penguatan terkait pembentukan karakter siswa.

Kurikulum merdeka dapat ditransformasikan dengan vokasi, khususnya untuk menambah keterampilan murid dan menyediakan SDM yang dapat diterima oleh DUDI. Berikut ini video yang menjelaskan tranformasi pendidikan dengan vokasi melalui merdeka belajar.



Pendidikan umum didefinisikan sebagai pendidikan dalam rangka membekali peserta didik di dalam mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum untuk kehidupan manusia. Sedangkan pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai pendidikan khusus yang memberikan pengalaman langsung pada peserta didik, terutama bagi yang berminat dalam hal berbagai bidang khusus atau pada bidang kejuruan.

Pendidikan kejuruan atau vocational education dan pendidikan umum atau practical arts education, sering juga disebut “special education” (pendidikan khusus) dan “general education” (pendidikan umum), keduanya sangat penting dalam penyediaan tenaga kerja.

Prinsip pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai generalisasi untuk menyiapkan dan pelayanan arahan untuk program dan konstruksi kurikulum, evaluasi, seleksi praktik instruksional, dan kebijakan pembangunan.

Dengan kata lain: para praktisi pendidikan kejuruan dapat merencanakan/membuat program dan kurikulum pendidikan, evaluasi, dan proses pembelajaran maupun kebijaksanaan lain yang dikembangkan berdasarkan kepentingan dan perkembangan zaman atau IPTEK.

Prinsip pendidikan kejuruan menurut Barlow (1974):

1.    Dikembangkan dan diselenggarakan untuk warganegara,

2.    disediakan melalui pendidikan secara umum,

3.    variabel pendidikan kejuruan dibuat untuk semua,

4.    integrasi teori dan praktek di dalam pendidikan kejuruan,

5.    melibatkan pemberi kerja di dalam program kejuruan,

6.    melibatkan pemerintah secara umum di dalam pendidikan kejuruan, khususnya dalam penetapan standard yang diinginkan dan pemerintah menyediakan dana untuk program, dan

7.    menyediakan penguasaan belajar (mastery learning) dan instruksi secara individual.

Perkembangan teknologi belakangan ini semakin maju dan dapat memberikan pemenuhan kebutuhan manusia, pendidikan harus mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan teknologi untuk menunjang kegiatan pendidikan, sehingga lulusan atau output pendidikan mampu bersaing dan sesuai dengan permintaan dunia usaha dan dunia industri.

Dari prinsip-prinsip diatas dapat disesuaikan dengan tantangan pendidikan saat ini, khususnya Pendidikan Kejuruan (vocational education), yaitu:

1. Pemerintah menyusun kurikulum yang terintegrasi dengan DUDI, dalam perencanaan dan penyusunan kurikulum melibatkan DUDI. Aspek yang perlu dikembangkan dalam satuan pendidikan dapat berupa sikap (karakter pesera didik), pengembangan bakat peserta didik, mata pelajaran (intrakulikuler dan atau cokurikuler), mata pelajaran keahlian/kejuruan, pendidikan sistem ganda (dapat melalui kegiatan prakerin), uji kompetensi peserta didik, pendidikan pelatihan kerja dan budaya kerja untuk peserta didik, pelatihan mental dan fisik peserta didik dan stratgi pembelajaran.

2.  Satuan Pendidikan merancang kurikulum operasioal satuan pendidikan, yang dapat mencakup seluruh kegiatan yang ada di satuan pendidikan.

3.   Sistem pembelajaran satuan pendidikan dirancang untuk menciptakan kebiasaan atau kebudayaan positif untuk membentuk karakter peserta didik.

4. Pembelajaran materi pelajaran direncanakan dengan sebaik-baiknya dan pemilihan metode pembelajaran menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran, peserta didik akan semakin semangat dan termotivasi dalam proses pembelajaran.

5. Peserta didik dibekali magang kerja dalam proses prakerin untuk menambah wawasan dan pengalaman peserta didik.

6.    Peserta didik difasilitasi uji kompetensi dari pihak terkait, seperti : DUDI dan LSP.

7. Peserta didik memperoleh materi bimbingan karir, dimana materi ini mencakup dengan pembuatan surat lamaran, CV, latihan soal test kerja dan atitude di lingkungan kerja.

8.  Adanya sistem aplikasi yang terintegrasi dari pemerintah, dengan menyajikan data siswa yang siap bekerja dengan profil kompetensi yang disandang siswa, sehingga DUDI dapat dengan mudah memilih calon tenaga kerjanya melalui sistem aplikasi tersebut.

9.  Sistem aplikasi diatas sangat dibutuhkan sekali untuk output pendidikan vokasi, dapat digunakan untuk melihat potensi lulusan vokasi dan memperoleh data yang valid terkait data siswa SMK yang dapat diserap oleh DUDI.

Untuk menambah wawasan kita terkait link and match pada pendidikan vokasi, kami cantumkan video sebagai berikut :


Penyelenggara pendidikan kejuruan belakangan ini terus melakukan trobosan-trobosan dengan melakukan kerjasama dengan beberapa negara untuk membantu mengambangkan pendidikan vokasi di Indonesia, berikut ini kami cantumkan video untuk menambah pengetahun tentang trobosan pemerintah pada pendidikan vokasi :



Ada yang perlu dibenahi dalam pendidikan vokasi diantaranya:

1.  Komunikasi dan kolaborasi antara penyelenggara pendidikan vokasi dengan DUDI serta satuan pendidikan, dirancang dengan jelas, diperlukannya agenda yang matang sehingga pihak-pihak terkait dapat memiliki satu visi dan misi.

2. Penyelenggara pendidikan melakukan pemetaan dengan tepet terkait satuan pendidikan yang memerlukan perhatian terkait outputnya, perhatian tersebut difokuskan kepada satuan pendidikan yang memiliki outputnya yang rendah dan melakukan pembenahan kepada satuan pendidikan tersebut. Dengan kegiatan tersebut dapat menjaga mutu dari satuan pendidikan dan pemerataan mutu pada setiap satuan pendidikan.

3. Penyelenggara pendidikan merancang aplikasi untuk melakukan kontroling dan pengawasan terhadap satuan pendidikan kejuruan, dalam rangka menyiapkan peserta didik yang siap kerja. Seperti yang sudah dijelaskan pada point diatas (8 dan 9).

Portofolio Pribadi 04

Landasan Filosofi PTK


Implementasi dalil Charles Prosser ke-2 dan ke-16  pada pendidikan vokasi di Indonesia?
Charles Prosser hidup antara 1871 sampai dengan 1952. Menurut pandangan Prosser, ilmu pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari satu bidang pembelajaran ke bidang pembelajaran yang lain, dan pembelajaran akan efektif jika dilaksanakan secara khusus dan langsung pada permasalahannya. Prosser membedakan pendidikan menengah umum dengan pendidikan menengah kejuruan. Prosser memperkenalkan sekolah untuk bekerja, dimana siswa dibawa untuk mempelajari latihan dan proyek seperti kondisi kerja yang nyata di industri. Prosser terkenal dengan 16 teori dalam pendidikan kejuruannya.

Dari 16 teori dalam pendidikan kejuruan menurut Charles Prosser, kami bahas terkait implementasinya pada pendidikan vokasi pada point ke 2 dan 16, yaitu :

1.  Teori ke-2, Pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempat kerja. Teori ini dapat di implementasikan pada pendidikan sekolah kejuruan berupa:

a.  Diawali dengan proses perencanaan kurikulum sekolah yang memiliki integrasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pemerintah memfasilitasi kegiatan penyelarasan kurikulum sekolah dengan DUDI dimana item yang dikembangkan di dalam kurilulum berupa etos kerja, pemanfaatan teknologi dan kebudayaan kerja.

b. Satuan pendidikan merencanakan kegiatan dari awal hingga akhir pendidikan di sekolah bagi siswa, beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah yaitu:

1)  Pembelajaran dengan sistem blok yaitu mata pelajaran praktik/konsentrasi keahlian menjadi fokus pada sekolah berbasis kejuruan, sekolah harus mampu memberikan porsi dalam pembelajaran praktik kepada siswa, dengan harapan keterampilan siswa dapat mampu berkembang sesuai dengan sasaran DUDI bahkan mampu berinovasi. Selain pelajaran praktik sekolah menentukan porsi untuk pelajaran yang bersifat umum atau normatif/adaptif dimana pelajaran ini memiliki teori yang lebih banyak.

2) Dari point satu diatas, sekolah diharapkan mampu mengkombinasikan beberapa mata pelajaran menjadi satu kegiatan pembelajaran dengan harapan mampu menambah pemahaman kepada siswa bahwa adanya konektifitas atau hubungan antar mata pelajaran, sehingga siswa memperoleh pemahaman dan keterampilan yang lebih komlek.

3) Satuan pendidikan harus mampu mengembangkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kemampuan peserta didik dapat melihat dan belajar dari lingkungan sekitar atau lingkungan hidup sebagai media memperoleh informasi dan dapat di integrasikan dalam mata pelajaran. Peserta didik dalam kegiatan ini dapat memperoleh berfikir secara kritis, mandiri dan mempu membbuat keputusan yang bertanggung jawab.

4) Satuan pendidikan merencanakan program sistem pendidikan ganda yang biasa kita kenal dengan PKL atau Prakerin, dengan program ini siswa dapat memperoleh pengalaman yang ada di DUDI, dalam peleksanaan program ini sekolah memantau perkembangan siswa dan nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.

5) Satuan pendidikan merencanakan workshop kerja, dalam kegiatan ini sekolah dibantu oleh program pemerintah untuk mendatangkan DUDI ke sekolah untuk menyelenggarakan workshop kerja, dalam kegiatan ini siswa dapat memperoleh simulai penggunakaan teknologi dan budaya kerja. Sehingga siswa merasa percaya diri nantinya setelah lulus sekolah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

6) Satuan pendidikan menyelenggarakan uji sertifikasi kompetensi kepada siswa, untuk menambah keterampilan siswa dan memiliki sertifikat kompetensi yang akan menjadi bekal untuk siswa dalam mencari pekerjaan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa.

c. Satuan pendidikan menyediakan fasilitas belajar siswa yang seusai dengan perkembangan teknologi, dalam hal ini sekolah dibantu oleh pemerintah dan oleh DUDI, sarana dan prasarana sekolah sangat penting dalam memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa. Dengan kualitas sarana yang dimiliki akan menambah motivasi siswa untuk menyelurakan minat dan bakatnya.

d. Satuan Pendidikan memfasilitasi sumber daya manusia yang ada di sekolah yaitu guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang dapat menambah kemampuan dan keterampilan dalam pembelajaran di kelas sebagai pemimpin pembelajaran.

e.   Untuk menambah pengetahuan terkait pendidikan vokasi di sertakan video yang kami dapat dari cahnnel youtube.


 

Teori ke-16, Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi. Terkait teori ke-16 ini memerlukan ketegasan dan komitemen dari sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pemerintah harus mampu menyaring dan menyeleksi terhadap pendirian sekolah baru. Sehingga pemerintah dapat dengan mudah mengontrol keberadaan sekolah, baik lokasi maupun tingkat mutu sekolah yang ada. Pemerinta harus mampu secara konsisten melaksanakan bimbingan terhadap sekolah kejuran agar menjaga kualitas dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.


Teori belajar behaviorisme, kognitivisme dan kostruktivisme menjadi teori yang tepat pada pendidikan vokasi!

Dalam Pendidikan vokasi atau terkadang disebut juga sebagai pendidikan kejuruan merupakan salah satu strategi penting dari dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini karena sebagai bangsa yang masih banyak menjalani pergantian nafkah masyarakat dari agrikultur ke dunia industri,  kita membutuhkan banyak tenaga yang terampil dan siap mengarungi dunia kerja. Pendidikan vokasi, atau pendidikan yang tertarget pada keterampilan, kecakapan, dan sikap dunia usaha menjadi penopangnya.

Satuan pendidikan harus merespon dengan baik terkait pendidikan vokasi untuk menghasilkan siswa yang terampil dan siap menghadapi dunia kerja, khususnya untuk satuan pendidikan berbasis kejuruan.

Keterkaitannya teori pendidikan behaviorisme pada pendidikan vokasi yaitu siswa memperoleh pembelajaran yang dapat melatih perubahan prilaku siswa ke arah yang positif, hal ini sekolah mempu membuat sebuah kebudayaan yang positif atau baik dan dilaksanakan secara konsisten, sehingga menjadi kebiasaan siswa untuk melaksanakanya. Dapat dicontohkan dengan sebuah kegiatan pembelajaran siswa untuk melatih kesandaran diri, setlah selesai melakikan kegiatan baik materi maupun praktik dibiasakan siswa merapikan kembali peralatan yang dipakai ketempat yang sudah ditentukan. Dari kegiatan ini siswa dapat memperoleh ilmu kedisiplinan, tangungjawab, mandiri dan gotong royong. Kegiatan ini hanya salah satu contoh, sekolah diharapkan mampu berkreasi menemukan budaya positif sekolah yang berpusat pada siswa.

Keterkaitan teori pendidikan kognitivisme pada pendidikan vokasi yaitu siswa dilatih untuk berfikir kritis dimana siswa menemukan sebuah ide-ide ataupun gagasan baru yang diperoleh dari pengetahuan yang di dapat dari belajar. Teori ini menuntut kepada guru untuk merencanakan pembelajaran yang berbasis kepada produk. Dapat dicontohkan dengan kegiatan pembeajaran yang berbasis kepada produk.

Keterkaitan teori pendidikan kostruktivisme pada pendidikan vokasi yaitu mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasi-kan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Dapat diconohkan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa, pada bagian akhir pembelajaran siswa dibiasakan untuk berefleksi terkait materi yang sudah dipelajari dan mengidentifikasi temuan baru yang di dapat setelah belajar dan sebelum belajar.

Untuk menambah pengetahuan terkait Teori / filosofi pendidikan vokasi di sertakan video yang kami dapat dari cahnnel youtube.



Prinsip teori konektivisme ialah memandang keragaman pendapat sebagai sumber informasi pengetahuan dan pembelajaran. Pembelajaran menjadi proses menghubungkan informasi dari berbagai sumber dan konteks dalam suatu komunitas, jaringan, atau basis data dengan dukungan teknologi. Prinsip teori ini siswa didorong menemukan berbagai keragaman yang ada menggunakan media teknologi yang sedang berkembang, dari keberagaman tersebut dapat dijadikan informasi yang akan dijadikan sebuah pengambilan keputusan.

Dalam kebiatan pembelajaran agar berjalan efiektif guru sebagai pemimpin pembelajaran memberikan pertanyaan pemantik terkait materi yang akan diajarkan, agar siswa terdorong untuk memberikan barbagai pendapatnya, sehingga dari pendapat tersebut dijadikan landasan unruk mengembangkan materi dan siswa dapar memperoleh informasi yang beragam terkait dengan materi yang sedang dipelajarinya.

Setelah usainya pandami atau pasca pandemi pemerintah membuat kurikulum merdeka belajar yang diharapkan adanya peningkatan mutu kualitas pendidikan, kami sertakan video yang kami dapat dari channel youtube. 


Portofolio Pribadi 03

Pembelajaran dan Penilaian Otentik dalam 

Pendidikan Vokasi





Umumnya, pembelajaran otentik menekankan pada aktivitas belajar yang berbasis dunia nyata, seperti: penyelesaian masalah menggunakan solusi yang dirumuskan siswa, role play, problem-based activities, dan studi kasus. Reeves, Herrington, dan Oliver (2002).

Peran aktif guru dalam menggunakan pembelajaran dan penilaian otentik untuk mengintegrasikan pembelajaran lintas disiplin dan mengembangkan keterampilan siswa pada abad ke-21 yaitu: guru sebagai aktor terpenting dalam proses pembelajaran dan penilaian otentik, guru dituntut mampu lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran maupun penilaian secara otentik untuk menghasilkan budaya belajar yang sudah ditentukan oleh permintaan dunia usaha dunia industri, dengan memanfaatkan berbagai media dan fasilitas yang ada di satuan pendidikan guru dituntut mampu memaksimalkannya, sehingga guru mampu memperdayagunakan kolaborasi antara siswa dengan media atau fasilitas yang ada, dengan harapan menambah ketermapilan siswa lebih mandiri, kreatif, kritis dan siap terjun ke dunia usaha dunia industri.

Dalam menerapkan pembelajaran otentik, guru tidak menekankan penggunaan buku teks melainkan dokumen, data saintifik dan sumber belajar non-textbook lainnya. Ceramah dan penjelasan yang didominasi oleh teacher-talk akan diminimalisir dan diganti dengan pembelajaran berbasis aktivitas berdasarkan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antar siswa melalui kolaborasi dan antar siswa dengan guru memegang peranan penting pada pembelajaran otentik. Dengan sistem pembelajaran yang demikian, penilaian hendaknya tidak menekanakan pada jawaban salah benar yang hanya menjangkau pemahaman dasar.

Berikut kami sertakan sebuah video yang barkaitan dengan mahakarya pendidikan vokasi.



Efektivitas Pembelajaran Otentik

Tiga hal pokok yang menjelaskan keunggulan pembelajaran otentik sebagai berikut:
  1. Siswa dilatih untuk memahami suatu materi pembelajaran dan dilatih menemukan hubungan antara materi yang dipelajarinya dengan pengalaman yang mereka alami.
  2. Materi yang telah diperoleh kemudian dipraktikkan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan siswa
  3. Ilmu yang telah siswa pelajari baik teori dan konsep perlu dieksplorasi, dengan tujuan siswa mampu lebih berkembang.

Elemen Utama Pembelajaran Otentik

dalam pembelajaran otentik siswa difasilitasi untuk belajar kkonsep, fakta, serta konteks keilmuan dan sosial dari bidang yang mereka pelajari. pembelajaran otentik disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari dan dalam lingkungan profesional untuk menerapkan ilmu yang di peroleh.

Pembelajaran otentik siswa dilatih untuk menyelesaikan permasalahan dengan metode interprestasi personal siswa, melalui cara ini siswa belajar mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat mereka aplikasikan.

Pembelajaran otentik cenderung komplek sehingga diperlukan alokasi waktu untuk pembelajaran dan persiapan yang baik dan matang untuk pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.

Dalam mempelajari dan menganalisa berbagai sumber belajar, siswa diberi kesempatan untuk memilih informasi yang relevan dan irelevan. Siswa dapat belajar mengenai berbagai sudut pandang terhadap suatu teori atau cara penyelesaian masalah.

Pembelajaran otentik, membiasakan siswa untuk bekerja secara kolaborasi untuk meningkatkan kerjasama tim dalam menyelesaikan permasalahan. Siswa dibiasakan untuk refleksi seteiap kegiatan pembelajaran.

Dalam pembelajaran otentik dapat dikaitkan dengan bidang ilmu lain, serta penilaian yang dilakukan secara terintegrasi, dimana penilaian teori dengan penilaian praktik menjadi terpadu.

Pembelajaran otentik diharapkan siswa mampu menghasilkan sebuah produk yang releven dengan materi.

Landasan pendidikan vokasi, berkaitan erat dengan pembelajaran dan penilaian otentik yaitu (1) Adanya penyesuaian antara kebutuhan belajar dan penyampaian meteri bel;ajar dengan lingkungan ekonomi dan sosial siswa. (2) Penyusunan standar lapangan kerja dengan menggunakan analisa kebutuhan yang sistematais dan dengan melibatkan pihak terkait secara aktif.

Dalam menerapkan penilaian otentik, capaian belajar siswa sebaiknya tidak hanya ditinjau dari satu aspek penilaian saja melainkan dari berbagai aspek yang dapat mengukur capaian belajar siswa secara holistik, termasuk partisipasi siswa dan produk yang siswa hasilkan selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh Faraday, Overton, dan Cooper (2011).

Penting untuk diingat bahwa kompetensi yang dimiliki siswa harus disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh penyedia lapangan kerja. Karenanya, salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh pendidikan vokasi adalah pembaharuan isi dan pendekatan pembelajaran berdasarkan kebutuhan penyedia lapangan kerja saat ini dan di masa yang akan datang (Lucas, Spencer, Claxton, 2012).


Portofolio Pribadi 02

Dinamika PTK di Indonesia
 


Mengapa Pemerintah RI perlu melakukan revitalisasi pendidikan Vokasi?  Coba kaitkan analisis dengan fenomena bonus demografi dan pengangguran!

Program Revitalisasi pendidikan vokasi direncanakan oleh pemerintah berdasarkan Intrusksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengintruksikan seluruh perangkat pemerintah yang mengurusi SMK di seluruh Indonesia agar melakukan perombakan sistem pendidikan dan pelatihan vokasi dengan memperhatikan permintaan pasar. Dalam Inpres tersebut, revitalisasi SMK adalah salah satu langkah konkret untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam menghadapi perubahan dunia yang sudah memasuki era revolusi industri ke-4 yang syarat dengan pemanfaatan teknologi.

Sasaran program revitalisasi pendidikan vokasi yaitu:

a)    Pengembangan dan penyelarasan kurikulum.

b)   Pemenuhan dan peningkatan kompetensi guru.

c)    Kerjasama industri, Kemendikbud telah bekerja sama dengan 16 DUDI. Program kerja yang telah dilaksanakan antara lain uji sertifikasi lulusan SMK dan rekrutmen lulusan SMK oleh industri tersebut.

d)   Peningkatan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK.

Program Revitalisasi SMK fokus mendalami empat bidang keahlian sesuai dengan prioritas pembangunan nasional pemerintah yaitu di bidang kemaritiman, pariwisata, pertanian dan ketahanan pangan serta industri kreatif. Keempat bidang ini dikembangkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat guna menghadapi persaingan global mendatang.

Program revitalsasi SMK perlu di lakukan untuk menanggulaingi fenomena bonus demografi dan pengangguran khusus untuk lulusan SMK. Dimana Indonesia saat ini memasuki era bonus demografi, di mana penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif. Jika bonus demografi ini dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah, kondisi ini akan menjadi modal penting untuk membangun untuk menuju 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045. Namun, jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi boomerang dan menjadi beban bagi negara.

Terkait bonus demografi dan pengangguran di Indonesia, program revitalisasi SMK pendidikan vokasi harus dikelola dengan serius, fokus, jelas dan memiliki strategi. Sehingga dapat menambah kemampuan dan daya saing SDM yang siap bekerja dan bersaing di DUDI, dengan begitu angka pengangguran akan semakin ditekan serta penduduk Indonesia terserap dengan baik di DUDI.


Kemana arah pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia?

Arah pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia, masih dalam proses berkembang, sehingga memerlukan waktu dan dukungan dari berbagai pihak untuk terus berjalan secara efisien, adapun rencana kerja pemerintah tahun 2020 yaitu telah memprogramkan Visi Indonesia 2045 “Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur”. Program tersebut tertuang pada kerangka pengembangan rancangan teknokratis RPJMN 2020-2024 yaitu Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetititf di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing. Dengan tema “Indonesia Berpenghasilan Menengah-Tinggi yang Sejahtera, Adil, dan Berkesinambungan”. Untuk mencapai tema tersebut terdapat 5 fokus yang akan dilaksanakan oleh pemerintah, yaitu:

1.    Fokus pembangunan manusia

2.    Fokus pembangunan ekonomi

3.    Fokus pembangunan kewilayahan

4.    Fokus pembangunan infrastruktur

5.    Fokus pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan


Apakah Saudara yakin bahwa program revitalisasi pendidikan di Indonesia akan berhasil? Berikan alasan-alasan yang logis, realistis, rasional dan argumentatif!

Program revitalisasi pendidikan di Indonesia akan berhasil apabila :

1) Pemerintah fokus dengan tujuan dan landasan-landasan direncanakanya program revitalisasi pendidikan

2) Pemerintah memanfaatkan teknologi yang berkembang setiap tahunnya untuk menunjang dan mendukung kegiatan program revitalisasi pendidikan

3) Pemerintah merencenakan jangka menengah dan panjang sebagai bahan evaluasi pencapaian dari program revitalisasi pendidikan

4)   Pemerintah menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan

5) Pemerintah berkolaborasi dengan DUDI untuk menyelaraskan kurikulum program revitalisasi pendidikan

6) Pemerintah melakukan pemerataan fasilitas penunjang untuk praktik sebagai sarana mutlak terbentuknya SDM yang unggul di masing-masing satuan pendidikan

7) Pemerintah melakukan pengawasan terhadap satuan pendidikan untuk menjamin kelayakan program revitalisasi pendidikan


Portofolio Pribadi 01

 Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Vokasi)

 


Dalam konteks taksonomi bloom, yang membagi aspek capaian pembelajaran menjadi 3 yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, seberapa besar porsi masing-masing aspek dalam penyelenggaraan SMK, agar dapat dihasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan?

Agar dapat menghasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan oleh satuan pendidikan memang diperlukan sebuah strategi yang harus diprogramkan oleh sekolah, dalam hal ini berfokus kepada lulusan yang mampu diserap oleh DUDI, pada materi mata kuliah ini disebutkan bahwa sekolah harus mampu mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki 4 aspek yaitu :

1.    Wawasan Kerja

2.    Keterampilan Teknis Bekerja

3.    Employabilitu Skills

4.    Transformasi Diri Terhadap Perubahan Tuntutan Dunia Kerja

 

Aspek diatas dapat menjadi pilihan landasan sekolah untuk melakukan program yang berpihak kepada peserta didik, adapun program yang dapat ditempuh oleh sekolah, telah disebutkan di materi kuliah ini, yaitu dengan melalui penyelenggaraan TVET diantaranya dimulai dari lingkup terkecil yaitu pembelajaran di kelas, pembelajaran praktik di bengkel amupun laboratorium, kemudian setelah mendapatkan pengetahuan dan praktik peserta didik dibimbing untuk belajar pada level teaching factory (TEFA) dan dunia kerja (DUDI) untuk memperoleh pengalaman kerja baik di sisi produksi, budaya di tempat kerja maupun berinterkasi dengan konsumen, setelah itu peserta didik mengikuti pendidikan sistem ganda atau biasa disebut dengan PRAKERIN (Praktik Kerja Industri) untuk menambah pengalaman untuk terjun langsung di dunia kerja, peserta didik akan memeroleh banyak pengalaman di tempat kerja dan akan meningkatkan kemapuan kompetensinya, dengan kompetensi yang diperoleh maka perlu adanya pengakuan atas skills nya melalui dengan uji kompetensi yang dapat diselenggarakan oleh DUDI atau LSP.

 

Dengan demikian satuan pendidikan SMK diharuskan menghasilkan output/alimni yang siap kerja dan cakap bekerja di DUDI. Sehingga dikaitkan dengan konteks taksonomi bloom khususnya di SMK maka dari ke 3 aspek prosentasenya berimbang dan saling melangkapi satu sama yang lainya dan memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanannya, adapun jabaran dari ke 3 aspek adalah sebagai berikut :

1.  Aspek kognitif, siswa di SMK diharapkan memiliki kompetensi berpikir tingkat tinggi dan dapat memahami serta menerapkan konsep-konsep teori yang relevan dengan bidang keahlian yang dipelajari.

2.  Aspek afektif, siswa diharapkan dapat memiliki kompetensi perilaku dan sikap yang positif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Afektif ini meliputi kemampuan siswa dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang positif seperti tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, inisiatif, dan etika dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja.

3.   Aspek Psikomotorik ini meliputi kemampuan siswa dalam menghasilkan produk atau layanan yang memadai dan berkualitas serta kemampuan dalam menjalankan tugas-tugas teknis dan mekanis yang diperlukan dalam bidang keahlian mereka.

 

Model penyelenggaraan PTK seperti apa yang cocok untuk Indonesia?

Model Penyelenggarakan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) dapat dilandaskan dari definisi pendidikan Kejuruan yang ada di materi mata kuliah ini, yaitu salah satunya Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu (PP 29 tahun 1990 Pasal 1 ayat 3), yang kemudian dari definisi tersebut sehingga terbentuknya elemen kompetensi pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan diantarnya : Kebutuhan masyarakat (societal needs), Kebutuhan dunia kerja (industrial needs), Kebutuhan profesional (professional needs), Kebutuhan generasi masa depan ( vision) dan Kebutuhan ilmu pengetahuan (scientific).

 

Diperlukan sebuah struktur kurikulum pendidikan kejuruan untuk menjadikan pedoman kerja bagi pihak pendidik atau guru dan satuan pendidikan. Kurikulum tersebut dikembangkan oleh pemerintah melalui mentri pendidikan, kebudayaan, reset dan teknologi yang terus mengembangkan struktur kurikulum sesuai dengan kodrat zaman. Ditambah dengan pemerintah melaksanakan link and match dengan DUDI sehingga kurikulum dapat diadopsi sesuai dengan standar DUDI.