Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi Masa Depan

Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi Masa Depan

Kondisi SMK saat inii secara umum, kondisi SMK saat ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

(1) hanya menyelenggarakan fungsi tunggal yaitu menyiapkan siswanya untuk bekerja pada bidang tertentu sebagai karyawan;

Sebagian besar SMK saat ini hanya menyelenggarakan fungsi tunggal, yaitu menyiapkan lulusannya untuk bekerja. Fungsifungsi lain yang juga tidak kalah penting belum dilaksanakan secara maksimal, misalnya pelatihan bagi penganggur, pelatihan bagi karyawan perusahaan, pengembangan unit produksi/ teaching factory, industri masuk SMK/teaching industry, lembaga sertifikasi profesi (LSP), tempat uji kompetensi (TUK), dan pengembangan bahan pelatihan. Akibatnya, sumber daya SMK terutama guru dan fasilitas sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga terjadi idle capacity/under utilization.

(2) lemah dalam menyiapkan siswanya untuk menjadi wirausahawan;

Kebanyakan SMK saat ini menyiapkan siswanya hanya untuk bekerja pada bidang keahlian tertentu sebagai pekerja/karyawan pegawai. Sangat sedikit sekali SMK yang sengaja menyiapkan siswanya untuk menjadi wirausahawan (pengusaha). Padahal, menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2010), lulusan SMK yang diterima sebagai karyawan di sektor formal hanya 30% dan yang 70% bekerja di sektor informal (usaha mikro/kecil) yang tidak pernah dipersiapkan dengan baik oleh SMK. Oleh karena itu, SMK harus menyiapkan siswanya untuk menjadi karyawan dan wirausahawan/pengusaha.

(3) lambat daya tanggapnya terhadap dinamika tuntutan pembangunan ekonomi;

SMK kurang cepat tanggap terhadap tuntutan-tuntutan pembangunan ekonomi tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional. Potensi ekonomi lokal, kekayaan sumber daya natural dan kultural, dan persaingan regional dan global belum ditanggapi secara cepat, cekat, dan tepat. Jika demikian, peran SMK terhadap pembangunan ekonomi tidak akan optimal.

(4) belum optimal keselarasannya dengan dunia kerja;

Keselarasan antara dunia SMK dan dunia kerja dalam dimensi kuantitas, kualitas, lokasi, dan waktu, belum terorganisir secara formal. Meskipun telah diterbikan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, tetapi wadah formal yang menjembatani dunia SMK dan dunia kerja belum ada. Di masa lalu (1994) ada wadah yang menjembatani dunia SMK dan dunia kerja yaitu Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN). MPKN dibentuk melalui Surat Keputusan Bersama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia tentang pembentukan Majelis Pendidikan Kejuruan dengan Nomor 0217/U/1994 dan 044/ SKEP/KU/VIII/94, tetapi sekarang Lembaga ini tidak aktif. Padahal Surat Keputusan Bersama tersebut juga belum dicabut.

(5) belum ada kepastian jaminan terhadap siswanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Pembalikan proporsi peserta didik SMA:SMK dari 70%:30% menjadi 30%:70% menuntut penyelenggaraan SMK yang mampu menjamin siswanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Penjaminan terhadap siswanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak merupakan tugas tidak mudah karena melibatkan banyak pihak. Meskipun demikian, upaya-upaya untuk memastikan agar lulusan SMK segera memperoleh pekerjaan merupakan tugas penting SMK, baik melalui pembelajaran yang bermutu tinggi dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja maupun melalui program-program bimbingan dan konseling kejuruan yang dirancang dengan baik.

Berikut video terkait konsisi pendidikan di Indonesia:


SMK diharapkan memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menanggapi tuntutan-tuntutan eksternal berikut:

(1) rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN);

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 (UU 17/2007) menetapkan bahwa visi Indonesiatahun 2025 adalah: “Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.” Lebih jauhlagi, UU 17/2007 juga mencanangkan idamanidaman kemajuan pada tahun 2045 sebagai berikut, yaitu: “Mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia pada tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.” UU 17/ 2007 juga menyatakan bahwa untuk mewujudkan visi tersebut ditempuh melalui 8 misi pembangunan nasional sebagai berikut: (1) mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila; (2) mewujudkan bangsa yang berdaya-saing; (3) mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum; (4) mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu; (5) mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan; (6) mewujudkan Indonesia asri dan lestari; (7) mewujudkan Indonesia menjadi Negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional, dan (8) mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

Berdasarkan visi dan misi RPJPN 2025 tersebut disusunlah empat tahapan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) sebagai berikut. (1) RPJMN 1: 2005- 2009, yaitu menata kembali NKRI, membangun Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik. (2) RPJMN 2: 2010-2014, yaitu memantapkan penataan kembali NKRI, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memperkuat daya saing perekonomian. (3) RPJMN 3: 2015-2019, yaitu memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis sumber daya alam yang tersedia, sumber daya manusia yang berkualitas, dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) RPJMN 4: 2020- 2024, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan dan perluasan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif (lihat Gambar 1).


(2) cetak biru pembangunan pendidikan nasional;

Berdasarkan empat tahapan pembangunan nasional 2005-2025 pada Gambar 1, Departemen Pendidikan Nasional (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Kemdikbud) menyusun rencana induk pembangunan pendidikan nasional yang disebut Cetak Biru Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif 2025. Cetak Biru inilah yang digunakan oleh Kemdikbud sebagai acuan penyusunan 4 tahapan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) bidang pendidikan sebagai berikut: (1) RPJMN 1: 2005-2010 adalah peningkatan kapasitas dan modernisasi; (2) RPJMN 2: 2010- 2015 adalah penguatan pelayanan; (3) RPJMN 3: 2015-2020 adalah peningkatan daya saing regional; dan (4) RPJMN 4: 2020-2024 adalah peningkatan daya saing internasional. Untuk mewujudkan idaman RPJMN 3 dan RPJMN 4, Kemdikbud harus meningkatkan mutu satuansatuan pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga sampai perguruan tinggi agar berdaya saing regional dan internasional. Pengembangan SMK Model dirancang untuk kepentingan tersebut.

(3) master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia/MP3EI;

Sebagai penajaman dari UU 17/2007 tentang RPJPN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menyusun Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk periode tahun 2011-2025 dengan menempuh tiga (3) strategi utama.

Pertama, pengembangan potensi ekonomi daerah melalui 6 (enam) koridor ekonomi yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Maluku. MP3EI telah membuat tema/peta perekonomian yang akan dikembangkan melalui 6 koridor ekonomi tersebut berdasarkan keunggulan dan potensi strategis masing-masing wilayah. Enam (6) tema/peta koridor perekonomian yang dimaksud dapat dilihat pada Gambar 1.

Pemetaan 6 koridor ekonomi tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan jenis, lokasi, jumlah, kualitas, dan waktu pengembangan SMK Model.

Kedua, pengembangan konektivitas intra dan inter koridor dalam sekala nasional dan internasional merupakan strategi utama ke 2 MP3EI dalam rangka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan merata dengan slogan “locally integrated and globally connected”. MP3EI telah merumuskan 3 elemen utama pengembangan konektivitas, yaitu: (1) menghubungkan pusat-pusat partumbuhan utama untuk memaksimalkan partumbuhan berdasarkan keterpaduan; (2) memperluas pertumbuhan dengan menghubungkan daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan melalui inter-modal supply chain systems; dan (3) menghubungkan daerah terpencil dengan infrastruktur dan pelayanan dasar dalam menyebarkan manfaat pembangunan secara luas.

Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan serta teknologi di dalam koridor. Strategi utama nomor (3) menyatakan bahwa untuk mendukung ketercapaian MP3EI diperlukan program pendidikan akademik, program pendidikan vokasi, program pendidikan profesi, pengembangan SMK, pengembangan pelatihan kerja, dan pengembangan lembaga sertifikasi profesi. Demi efisiensi, program-program tersebut dapat dipadukan (diintegrasikan) dan sumber daya yang ada dapat digunakan secara bersama antar program-program tersebut (resource sharing). Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan SMK Model, yaitu SMK yang dikembangkan dari fungsi tunggal (menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja pada bidang tertentu) menjadi SMK yang menyelenggarakan multifungsi (fungsi majemuk) atas dasar prinsipprinsip kemanfaatan, keterpaduan, resource integration, resource sharing, dan pemanfaatan Pengembangan SMK Model untuk Masa Depan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal.

(4) keanekaragaman kebutuhan masyarakat, khususnya dunia kerja;

Sebagai Bangsa dan Negara kepulauan, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis masyarakat yang tentu saja kebutuhannya juga beranekaragam. Ada kelompok penganggur yang ingin bekerja, ada kelompok karyawan perusahaan yang ingin meningkatkan keterampilannya, ada kelompok satuan pendidikan dan lembaga pelatihan kejuruan yang membutuhkan bahan pelatihan, ada kelompok masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri, dan sebagainya untuk tidak disebut satu persatu karena terlalu banyak jumlah jenisnya. Jika SMk ingin berperan besar dalam memajukan masyarakat yang beraneka ragam kebutuhannya, maka SMK harus mampu memberikan pelayanan majemuk terhadap keanekaragaman kebutuhan masyarakat. Tentu saja tidak semua keanekaragaman kebutuhan masyarakat harus dilayani oleh SMK, tetapi harus dipilah dan dipilih sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan yang dimiliki oleh SMK. Peran majemuk SMK sangat diperlukan untuk melayani keanekaragam kebutuhan masyarakat dan SMK Model dirancang untuk itu.

(5) kemajuan teknologi;

Jenis-jenis teknologi yang berkembang saat ini mencakup teknologi konstruksi, manufaktur, transportasi, komunikasi, energi, bio, dan bahan. SMK sangat dekat hubungannya dengan teknologi karena teknologi merupakan alat utamanya. Kedekatan hubungan SMK dan teknologi bukan barang baru karena teknologi merupakan bagian dari kehidupan SMK. Teknologi yang saat ini sarat perubahan menuntut SMK memiliki daya adaptasi dan adopsi yang cepat agar mampu menyiapkan siswanya berkemampuan dan berkesanggupan untuk melek teknologi, luwes menghadapi perubahan teknologi, dan terampil dalam mengoperasikan teknologi. Oleh karena itu, pengembangan SMK ke depan harus semutakhir kemajuan teknologi.

UNESCO (1992) memprediksi bahwa perubahan teknologi akan membuat SMK melakukan de-skilling pendidikan kejuruan disatu sisi dan disisi lain akan menuntut pendidikan kejuruan mengajarkan kemampuan multi-skilling. UNESCO juga menyarankan agar perencanaan kurikulum pendidikan kejuruan memberi prioritas pada multi-skilling, flexibility, retrainability, entrepreneurship, credit transfer, dan continuing education. Saran UNESCO tersebut sebenarnya telah tertampung dalam White Paper tentang pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia yang disebut Skills Toward 2020. Namun demikian, implementasinya mengalami distorsi dan diskontinyuitas dari waktu ke waktu akibat pergantian pimpinan pendidikan kejuruan, baik di tingkat pusat maupun di daerah.

Kemajuan teknologi menuntut SMK untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap kompetensi lulusannya, kurikulumnya, proses belajar mengajarnya, penilaian prestasi belajarnya, pendidik dan tenaga kependidikannya, sarana dan prasarananya, pendanaannya, dan pengelolaannya. Disamping itu, dengan potensi teknologi yang dimiliki oleh SMK, sudah saatnya SMK melakukan perubahan fungsinya, dari fungsi tunggal yang hanya menyiapkan siswanya untuk bekerja sebagai karyawan menjadi SMK yang memiliki fungsi majemuk untuk melayani kemajemukan tuntutan masyarakat.

Khusus untuk pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan, UNESCO (1992) juga menyarankan agar pendidikan kejuruan memiliki kurikulum yang komponen-komponennya terdiri atas broad academic base, basic training, specialized training, dan industrial upskilling yang benar-benar mampu menyiapkan siswanya untuk bekerja dan berkembang di tempat kerjanya.

(6) tuntutan globalisasi.

Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen, kepemimpinan, dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu produk. Keunggulan manajemen dan kepemimpinan akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Keunggulan sumberdaya manusia (SDM) merupakan kunci daya Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1 saing karena SDM lah yang akan menentukan siapa yang mampu menjaga kelangsungan hidup, perkembangan, dan kemenangan dalam persaingan global. Sumber daya manusia berkualitas unggul memiliki sifat-sifat kreatif, inovatif, luwes, melek teknologi, terampil, dan memiliki kecerdasan majemuk. Trilling dan Fadel (2010) menyarankan agar pendidikan pada abad 21 mampu menghasilkan “innovative, inventive, self-motivated and self-directed, creative problem solvers to confront increasingly complex global problem”. Saran tersebut sebenarnya telah diterapkan oleh di beberapa negara yang telah menyadari sepenuhnya betapa pentingnya memiliki satuan-satuan pendidikan yang cerdas, berkualitas tinggi, dan unggul.

Negara-negara berikut telah memiliki satuan-satuan pendidikan berkualitas tinggi. Misalnya, Malaysia memiliki Sekolah Bestari/ Smart School, Thailand memiliki World Standard Class, Filipina memiliki SBM Grand untuk sekolah umum dan untuk sekolah kejuruan namanya Strengthened Technical and Vocational Education Program/STVEP, Hongkong memiliki Quality School Improvement Project, dan Jepang memiliki Reinbow Plan. Negara-negara tersebut sangat proaktif dalam menyiapkan sumber daya manusia agar berkualitas tinggi dibanding dengan Indonesia yang baru saja memulai mengenalkan sekolah bertaraf internasional dan itupun dikritik mati-matian, yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Harus diakui bahwa setiap langkah inisiatif untuk kreatif dalam memajukan pendidikan tidak jarang akan menuai kritik karena ide-ide cemerlang juga sering keluar dari kemapanan yang telah lama mengakar di masyarakat.

Berikut video model SMK Pusat Keunggulan:



SMK MODEL TEROBOSAN BARU

SMK Model adalah SMK yang dikembangkan dari SMK yang menyelenggarakan fungsi tunggal yaitu menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja pada bidang tertentu menjadi SMK yang menyelenggarakan multi-fungsi (fungsi majemuk) atas dasar prinsip- prinsip kemanfaatan, keterpaduan program, integrasi sumber daya (manusia, uang, peralatan, bahan, dan sebagainya), resource sharing, dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. SMK Model dituntut untuk menjadi sekolah cerdas (kreatif, inovatif, inisiatif, cepat, tepat, dan cekat) dalam mengembangkan program-programnya, dan memiliki keunggulan-keunggulan dibanding dengan SMK-SMK lain dalam inputnya (kurikulum, guru, fasilitas, dan sebagainya), prosesnya (pembelajaran, manajemen, kepemimpinan, dan sebagainya), dan outputnya (mutu lulusan dan mutu produk-produk lain yang dihasilkan). Satu hal mendasar yang harus dilakukan oleh SMK Model adalah membangun kerjasama, kolaborasi, dan sinergi dengan dunia kerja, mulai dari perumusan kompetensi, penyusunan bahan ajar, pelaksanaan kegiatan, hingga sampai evaluasi dan sertifikasi kompetensi.

Program-program di SMK Model disusun selaras dengan kebutuhan peserta didik dan kemajemukan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja dalam berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik sektor primer, sekunder, tersier maupun kuarter. Oleh karena itu, keselarasan (link & match) antara SMK Model dan dunia kerja merupakan imperatif, baik dalam dimensi kuantitas (jumlah), kualitas (kompetensi), lokasi (tempat), maupun waktu (kapan). SMK Model dapat menyelenggarakan beragam jalur pendidikan, baik formal maupun non-formal, selaras dengan kebutuhan masyarakat lokal, nasional, regional, dan internasional. Oleh karena itu, berbagai alternatif jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang selaras dengan kebutuhankebutuhan tersebut harus disediakan melalui program-program yang berpihak kepada kemajemukan kebutuhan masyarakat. Gambar 3 menunjukkan cakrawala pengembangan SMK Model: lokal, nasional, regional, dan internasional.

Dari Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa SMK Model dituntut untuk mengembangkan program-program berdasarkan keunggulan lokal, berdasarkan karakteristik dan kebutuhan Indonesia karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang beragam dan melimpah serta kemajemukan sektor-sektor pembangunan, baik sektor primer (pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan/kelautan, dsb.), sektor sekunder (industri, perusahaan, dsb.), sektor tersier/jasa langsung (bank, transportasi, dsb.), maupun sektor kuarter/jasa tidak langsung (konsultan, penasehat, dan sebagainya). Siswa SMK harus berjati diri Indonesia yang ditempuh melalui pendidikan Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.


Berikut video terkait trobosan pendidkan SMK:



Terima Kasih Semoga Bermanfaat.

Model Pengajaran Pendidikan Vokasi

 Model Pengajaran Pendidikan Vokasi

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak lepas dari strategi agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara optimal, untuk itu sekolah menerapkan berbagai model sesuai dengan program studinya dan karakteristik peserta didik. Kata model dapat diartikan sebagai pola atau bentuk. Kaitannya dengan pendidikan kejuruan kata model di sini mengandung pengertian sebagai suatu bentuk atau pola penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Munculnya berbagai model penyelenggaraan pendidikan kejuruan, tidak dapat dilepaskan dengan masyarakat dan kebutuhannya.

Simanjutak dalam Heru Subroto (2004) mengemukakan tiga model pendidikan kejuruan dalam pengertian tenaga kerja yang terampil yaitu (1) sekolah kejuruan, (2) sistem kerjasama dan (3) kombinasi pendidikan dan latihan. Model sekolah kejuruan dalam pengertiannya adalah pendidikan yang penyelenggaraanya bersifat formal. Model ini banyak diterapkan diberbagai negara, di Indonesia berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penyelenggaraan pada SMK di sekolah dengan materi terbagi menjadi dua bagian, teori diberikan di dalam kelas dan praktek dilakukan di laboratorium/ bengkel. Seluruh kegiatan pendidikan teori dan praktek yang dilakukan di sekolah dengan programnya menitik beratkan pada bentuk-bentuk keterampilan dasar.

Model sekolah produksi merupakan pengembangn lebih lanjut dari sekolah kejuruan. Grenert dan Weimann dalam Heru Subroto (2004) membedakan sekolah produksi dalam tiga model dasar yaitu : (1) Sekolah produksi sederhana (Der einwickelte produktionsschullyp Training Cum production), (2) Sekolah produksi yang berkembang (Der einwicketeproduktionsschulltyp), (3) Sekolah produksi yang berkembang dalam bentuk pabrik sebagai tempat belajar (Der inwickelte Produktionsschulltyp inform der Lernfabrik Produktion Training Corporation).

Model pertama yaitu sekolah produksi sederhana dalam pelaksanaannya mempunyai bentuk sederhana yang mempunyai sifat mendasar. Ciri khas model ini mengacu pada ciri-ciri organisasi pada suatu sekolah. Antara sekolah produksi dan kegiatan pendidikan tercakup dalam lembaga dan bentuk organisasinya ditentukan oleh peraturan tentang persekolahan yang birokratis. Sekolah semacam ini dilengkapi dengan bengkel atau suatu bangunan gedung untuk kegiatannya. Dilihat dari simulasi realitas perusahaan (Die Simulation der betibsrealitat), setaraf dengan perusahaan pekerjaan tangan. Gerak ke luar yang dilakukan sekolah ini terbatas. Struktur prestasi dan struktur personalia pada umumnya tunduk pada norma-norma organisasi sekolah.

Model kedua, yaitu sekolah produksi yang berkembang (training and production), pelaksanaanya merupakan penggabungan antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan produksi. Bentuk organisasi ini ditandai kombinasi antara bagian pendidikan dengan bagian produksi. Sekolah semacam ini dilengkapi bengkel untuk pendidikan dan bengkel untuk produksi. Taraf simulasinya setingkat dengan perusahaan manufaktur. Sekolah ini tidak terikat dengan peraturan persekolahan yang birikratis, sehingga lebih cenderung bebas.

Model ketiga, yaitu sekolah produksi yang berkembang dalam bentuk pabrik tempat belajar (Production Training Coorporation). Model ini disebut pula dengan model Teaching Factory. Penyelenggaran model ini memadukan sepenuhnya antara belajar dan bekerja, setidaknya dalam bidang pokok atau inti. Bentuk organisasinya menunjukan sifat perusahaannya, sedangkan taraf simulasinya setingkat dengan pembuatan barang jadi yang modern. Tenaga pengajarnya terdiri dari para pakar dan insinyur yang berminat dan berbekal ilmu pendidikan dan telah ditempa terlebih dahulu. Sekolah ini didirikan mempunyai kaitan dengan kerangka strategi pengembangan yang berskala besar dalam fungsi-fungsi mengamati masalah pendidikan sebagai pendidikan lanjutan, memberi informasi, konsultasi dan pengembangannya. Teaching factory merupakan salah satu inovasi dalam upaya pemberdayaan SMK agar lebih bermutu. Prinsip ini menempatkan SMK selain sebagai penghasil lulusan yang merupakan calon tenaga kerja yang handal dan kompeten juga berperan sebagai penghasil produk maupun jasa yang layak jual. Dengan prinsip ini SMK dapat mengembangkan unit usaha baik penghasil produk maupun jasa yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dari ketiga model pembelajaran vokasi yang dapat dilaksanakan di suatu lembaga atau satuan pendidikan secara spesifikasi diulas dalam video berikut ini terkait peluang kerja yang ada pada suatu kompetesni keahlian yang ada pada pendidikan vokasi.




A. Pembelajaran Berbasis Interaksi Sosial

Model pembelajaran interaksi social menekankan pada adanya hubungan antara peserta didik dengan lingkungan kehidupan. Tujuan pembelajaran interaksi social menitikberatkan bagaimana peserta didik dapat memahami kebersamaan dan mengerti kehidupan bersama di masyarakat atau learning to life together. Setiap peserta didik tidak bisa memisahkan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Dengan pembelajaran inetraksi social, peserta didik akan mengerti dan memahami makna hubungan interaksi social dan kehidupan social. Pembelajaran interaksi sosial dapat memberikan wawasan berfikir kepada peserta didik tentang sikap atau prilaku yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan model ini, peserta didik akan diajarkan tentang bagaimana bersikap dan menghadapi kondisi masyarakat social yang ada. Pembelajaran interaksi sosial dapat memandu siswa untuk memiliki daya mental yang lebih baik dan kesehatan emosi yang lebih akseptabel dengan cara mengembangkan kepercayaan diri dan perasaan realitis serta menumbuhkan empati kepada orang lain. Pembelajaran menjadi wahana untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat berinteraksi secara ekstensif dengan masyarakat, mengembangkan sikap dan perilaku demokratis (Muhammad Mushfi El Iq Bali, 2017: 227).

Pembelajaran interaksi social pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik sebagai bekal untuk di masyarakatnya. Dalam melangsungkan kehidupan di masyarakat, keterampilan sosial sangat dibutuhkan agar tercipta keharmonisan dan kedamaian. Interaksi social dapat berjalan dengan baik manakala masing-masing individu memahami nilai-nilai social. Prilaku santun, menghargai sesama, demokratis, jujur, adil dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai social yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik sebagai bagian dari masyarakat. Untuk menanamkan nilai-nilai karakter itu, seorang guru dituntut agar dapat mendesain secara baik dan sungguh-sungguh dengan berbagai cara dan media belajar sehingga nilai-nilai karakter tersebut dapat menjadi perilaku permanen bagi peserta didik. Pembelajaran interaksi social diharapkan dapat mengantarkan peserta didik mempunyai kepribadian dan nilai-nilai karakter mulia. Karakter yang dimaksud, seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab(Afifah Zafirah, 2018:104). Pada kenyataannya, masih banyak peserta didik yang masih kurang menaruh perhatian terhadap nilai-nilai karakter seperti, sopan santun, kurang berbagi dengan sesama, kurang memilki rasa hormat, egois dalam bersikap, masa bodoh dengan lingkungannya dan tidak berempati dengan sesamanya. Hal ini harus menjadi perhatian bersama untuk segera dibenahi, diantaranya melalui proses pembelajaran yang efektif. Salah satu hal yang dapat ditempuh dalam pendidikan karakter yaitu dengan menggunakan model pembelajaran interaksi social. Model pembelajaran interaksi social dapat membantu peserta didik dalam belajar berinteraksi. Keberadaan model pembelajaran interaksi social berfungsi membantu siswa memperoleh informasi tentang bagaimana hidup di masyarakat, gagasan berkomunikasi baik, keterampilan sosial, berempati, bersimpati yang diajarkan di kelas dan diekspresikan dalam kegiatan belajar. Model ini dapat mengajarkan dan melatih peserta didik terhadap semua nilai-nilai karakter yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat sebagai bekal peserta didik menjalani kehidupan di masyarakat secara riil.

Video terkait pembelajaran berbasis interaksi sosial:


B. Pembelajaran Berbasis Pemrosesan Informasi

Teori belajar oleh Gagne (1988) disebut dengan “Information Processing Learning Theory”. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga Information-Processing Model oleh Lefrancois atau Model Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar.. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, kecakapan motorik.

Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut.

Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini berkenaan dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif, serta

Video terkait pembelajaran berbasis pemroses informasi:


C. Pembelajaran Berbasis Aktivitas Personal

Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang inspiratif hal utama yang perlu di perhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk senang dan menyukai pelajaran. Rasa senang terhadap pelajaran ini akan menjadi modal penting dalam diri siswa untuk menekuni pembelajaran yang lebih optimal, sehingga para siswa akan lebih bersemangat dalam belajar.

Hasil belajar siswa merupakan ukuran dalam belajar siswa yang menunjukkan seberapa jauh pemahaman yang telah diperoleh dalam proses pembelajarannya. Pembentukan siswa yang secara utuh atau memiliki hasil belajar yang seimbang antara kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik merupakan tujuan paling utama dalam proses pembelajaran. Pembentukan siswa yang cerdas serta memiliki sifat positif dan secara motorik terampil, misalkan kemampuan dalam mengamati, kemampuan dalam mencari sebuah data, kemampuan dalam menganalisis suatu permasalahan, mengkomunikasikan suatu hasil penemuan, maupun yang lainnya merupakan hasil belajar yang diharapkan dari suatu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu adanya model pembelajaran yang dapat mempengaruhi pemahaman dan hasil belajar siswa dari model sebelumnya. Dimana dalam hal ini guru masih menggunakan metode cerah dalam proses pembelajarannya sehingga siswa kurang tertarik dalam proses pembelajaran yang dapat berdampak pada kemampuan berpikir, dan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran tersebut ialah model pembelajaran berbasis aktivitas siswa (PBAS).

Pembelajaran berbasis aktivitas siswa (PBAS) merupakan model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas belajar siswa secara langsung. Model pembelajaran ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa agar informasi yang disampaikan lebih bermanfaat dan dapat menambah pengetahuannya. Melalui pembelajaran ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi yang didapatkannya, tetapi bagaimana cara siswa menerapkan informasi yang didapatkannya dalam kehidupannya. Dihubungkan dengan suatu tujuan pendidikan yang ingin dicapai yang dimana bukan hanya membentuk manusia yang cerdas, akan tetapi yang lebih penting ialah membentuk kemampuan yang ada pada diri siswa yang bertakwa dan memiliki keterampilan. (Dewi, 2017).

Video terkait pembelajaran berbasis aktivitas personal:


D. Pembelajaran Berbasis Sistem Perilaku

Model adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Dengan demikian model pembelajaran dapat diartikan kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik.  Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan pengertian model pembelajaran perilaku adalah kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik yang didasari pada tanggapan atau reaksi peserta didik terhadap rangsangan atau lingkungan.

Semua model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku, seperti teori belajar perilaku, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Ciri-ciri sistem model perilaku atau Behavioral Models yaitu:

a.    Seluruh model pada kelompok ini didasarkan pada hasil sharing kajian teori-teori secara umum, yang kemudian dipersandingkan/ diintegrasikan dengan teori-teori perilaku (yang dikondisikan).

b.    Beberapa teori yang mendasari: teori-teori belajar secara umum, teori belajar sosial, teori modifikasi perilaku, dan teori-teori terapi perilaku.

c.    Secara umum menekankan pada perubahan perilaku yang terlihat (observable) dibanding perilaku-perilaku secara psikologis atau perilaku yang tidak bisa diamati.

d.    Penerapan prinsip-prinsip stimulus terkontrol dan reinforcement yang menjadi dasar penerapan model pembelajaran interaktif dan mediasi belajar terkondisikan, baik pada pembelajaran secara individu maupun kelompok.

e.    Pengembangan kemampuan belajar melaui fakta-fakta, konsep-konsep dan keterampilan dipandang sama baiknya untuk mereduksi tingkat kecemasan maupun untuk memperoleh kegiatan relaksasi individu.

Video terkait pembelajaran berbasis sistem prilaku:


Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Penilaian Hasil Belajar Praktik

 PENILAIAN HASIL BELAJAR PRAKTIK


A. Penilaian Berbasis Kompetensi

Penilaian mencakup semua proses pembelajaran, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Depdiknas (2008: 6) mengungkapkan salah satu prinsip dalam penilaian hasil belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah bahwa penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran dan penilaian merupakan suatu rangkaian proses yang tidak dapat dipisahkanketika merencanakan suatu pembelajaran, sudah harus ditentukan strategi dan model penilaian. Demikian juga sebaiknya, hasil penilaian harus digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merencanakan pembelajaran berikutnya (Budi Santoso, 2014:61).

Benjamin S. Bloom (1979: 7) membagi aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melali minat, perhatian, sikap serta nilai-nilai. Kedua kawasan tersebut melibatkan otak dan perasaan, belum melibatkan otot atau kemampuan fisik. Baru pada kawasan yang ketiga kekuatan fisik dilibatkan, oleh karena kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik.

Lebih lanjut Bloom (1979: 62) hasil belajar pada kawasan kognitif dibagi menjadi enam peringkat, dari peringkat yang paling sederhana sampai dengan peringkat yang paling komplek. Keenam peringkat tersebut adalah (dari peringkat sederhana sampai yang paling kompleks) pengetahuan, komprehensi, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

B. Karakteristik Penilaian Berbasis Kompetensi

Pembelajaran pada bidang kejuruan mengacu pada pembelajaran berbasis kompetensi, oleh karena itu penilaian terhadap pencapaian hasil belajar sudah selayaknya mengacu pada penilaian berbasis kompetensi. Terdapat beberapa karakteristik penilaian berbasis kompetensi yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan penilaian berbasis kompetensi,

Berikut video penilaian berbasis kompetensi :



C. Strategi Penilaian Hasil Belajar

Mengacu pada Lampiran permendikbud 81A Tahun 2013, strategi penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan metode dan teknik penilaian sebagai berikut.

1. Metode Penilaian

Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan metode tes dan nontes. Metode tes dipilih bila respons yang dikumpulkan dapat dikategorikan benar atau salah, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pada kompetensi inti kategori pengetahuan dan ketrampilan. Tetapi apabila respons jawaban yang dikumpulkan tidak dapat dikategorikan benar atau salah digunakan metode nontes, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pada kompetensi inti kategori spiritual dan sosial.

Berikut video IKM dengan tema "Metode Penilaian pada Kurikulum Merdeka" :



2. Teknik dan Instrumen Penilaian

Untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai teknik, baik berhubungan dengan proses maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian kompetensi. Penilaian dilakukan berdasarkan indikatorindikator pencapaian hasil belajar, yang meliputi ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Berikut video Tknik dan Instrumen Penilaian :



D. Penilaian Hasil Belajar Praktik

Bloom (1979: 7) membedakan aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui minat, perhatian, sikap, serta nilai-nilai. Pada kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kemampuan fisik.

Hasil belajar keterampilan dapat diukur dengan cara (a) pengamatan langsung serta penilaian tingkah laku peserta didik pada waktu proses belajar berlangsung, (b) sesudah mengikuti pembelajaran praktik dengan jalan memberikan test kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan keterampilan serta sikapnya, (c) beberapa waktu sesudah pembelajaran praktik selesai, misalnya penilaian dari kebersihan peserta didik dalam pekerjaan (kondisi tempat kerja, alat-alat, mesin-mesin setelah digunakan). Menurut Leighbody (1968) keterampilan praktik dapat diukur dari beberapa hal berikut.

1. Kualitas pekerjaan, hal ini dapat diukur dari ketelitian, kecepatan menyelesaikan pekerjaan, dan hasil pekerjaannya.

2. Keterampilan menggunakan alat dan mesin-mesin, hal ini dapat dikur dari effisiensi, ketepatan menggunakan alat, menjaga keselamatan kerja alat dan mesin.

3. Kemampuan menganalisis pekerjaan dan perencanaan langkah-langkah mulai dari saat dikerjakan sampai selesai.

4. Kemampuan menggunakan informasi untuk pertimbangan dalam bekerja.

5. Kemampuan membaca diagram, gambar-gambar, simbul-simbul teknik dan penggunaan buku manual.

Berikut video IKM dengan tema "Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik" :



Peningkatan Mutu Pembelajaran Melalui Teknologi Informasi

 PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI

DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN


Pada ranah pembelajaran, target mutu yang dirancang perlu disesuaikan dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan khusus untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah perlu memperhatikan pula target-target yang telah ditetapkan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dari tingkat pusat, wilayah sampai daerah. Untuk mencapai target mutu dalam proses pembelajaran, perlu dilakukan langkah-langkah strategis dengan menetapkan berbagai cara dan strategi serta melibatkan semua resources yang tersedia termasuk teknologi infomasi.

Video Berita terkait peningkatan Mutu Pembelajaran, dari TvMU :


Untuk menambah wawasan, video diskusi antar PWNU dengan KEMDIKBUD terkait Memperkuat Mutu Pendidikan Kita.


PENGARUH TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah mempengaruhi secara nyata perkembangan cara-cara yang digunakan dalam proses pendidikan. Produk-produk hasil perkembangan teknologi informasi (TI) telah menginvasi secara langsung di hampir seluruh aspek pendidikan, dan memunculkan pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar (Lustigova & Lustig, 2009). Sekurang-kurangnya terdapat 4 pergeseran paradigma pembelajaran saat ini, yakni (1) dari terpusat pada guru menuju terpusat pada siswa, (2) dari sekedar penyampaian pengetahuan menuju pengembangan kecerdasan multi konteks, (3) dari pengajaran berbasis tempat terbatas menuju belajar berwawasan global, lokal dan individual, dan (4) dari buku teks yang terbatas menuju sumber-sumber belajar yang sangat beragam termasuk pengalaman-pengalaman dari suatu komunitas, belajar berbasis web, ekspos internasional dan materi-materi kelas dunia (Cheng, 2005). Berikut video peningkatan mutu Pendidikan melalui Teknologi Informasi :


APLIKASI DESKTOP VERSUS WEB SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran pada umumnya diimplementasikan ke dalam dua jenis program aplikasi yakni aplikasi desktop dan aplikasi berbasis web. Aplikasi desktop diartikan sebagai program aplikasi komputer yang dapat berjalan secara offline (komputer tidak terhubung ke jaringan internet). Pada aplikasi ini, pengguna memasang program aplikasi pada komputer/laptopnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakannya. Dalam menjalankan aplikasi ini, pengguna tidak memerlukan adanya jaringan internet, karena aplikasi dapat berjalan secara offline pada komputernya. Karena bersifat offline, semua file pendukung aplikasi berada pada komputer lokal, sehingga aplikasi desktop dapat berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan aplikasi web yang berjalan secara online. Selain itu, dengan aplikasi desktop pengguna dapat dengan mudah melakukan perubahan-perubahan pada setting programnya. Namun, dengan menggunakan aplikasi desktop pengguna tidak dapat menjalankannya pada kompter lain karena aplikasi ini harus dipasang dulu programnya di komputer yang akan digunakan untuk menjalankannya. Kekurangan lain dari aplikasi desktop adalah setiap program yang dipasang pada setiap komputer pada umumnya membutuhkan lisensi dari pabriknya, dan hal ini memerlukan biaya. Selain itu, program-program aplikasi desktop pada umumnya memerlukan dukungan perangkat keras dengan spesifikasi yang tinggi sehingga memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan jika pengguna menggunakan aplikasi berbasis web.


INTERNET SEBAGAI BASIS PEMBELAJARAN ONLINE

Internet didefinisikan sebagai jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia dengan menggunakan prosedur tertentu. Secara ilustratif jaringan internet dapat digambarkan seperti pada gambar 1 berikut ini.



berikut video dengan tema internet sebagai media belajar:


Terima Kasih Semoga Bermanfaat.

Konsep Pembelajaran Berbasis Kompetensi

KONSEP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

BERBASIS KOMPETENSI


Pendidikan Kejuruan.

Pendidikan kejuruan adalah bagian dari pendidikan yang mencetak individu agar supaya dia dapat bekerja pada kelompok tertentu. (Evan, 1978). Pendidikan kejuruan suatu program yang berada di bawah pendidikan tinggi yang diorganisasi menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja tertentu atau meningkatkan pekerjaan dalam dunia kerja. (Good, 1959)

Pendidikan kejuruan bermaksud menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja tingkat menengah tertentu yang sesuai dengan tuntutan yang dipersyaratkan oleh dunia kerja, dan memberikan bekal kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya.Oleh karena pendidikan kejuruan pada dasarnya mengarahkan peserta didik pada bidang tertentu melalui suatu organisasi , tentulah hasil pendidikan ini dapat dipakai sebagai bekal mencari kehidupan atau nafkah. Pendidikan ini dapat juga dinamakan : ’education for earning a living

Seperti kata Prosser. 1949 bahwa: “education as preparation for society as it is”, yang mengandung arti adanya pembudayaan (alkulturasi), dan tentu saja hal ini berbeda dengan gagasan Dewey. 1900. yakni “education is preparation to change for society” atau pendidikan justru akan merubah masyarakat. Namun di dalam masyarakat pendapat kedua pakar itu dibutuhkan semua. Menurut Slamet PH, bahwa di samping kedua hal tersebut pendidikan juga bertugas untuk menumbuhkan kemampuan untuk beralkurturasi secara kritis.

Muller. 1986 memberikan 8 prinsip pengajaran pendidikan kejuruan, yaitu :

  1. Kesadaran akan karir. Kesadaran akan karir merupakan bagian penting dalam pendidikan kejuruan khusunya pada proses awal pendidikan itu sendiri.
  2. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang menyeluruh dan merpakan bagian dari masyarakat (public system).
  3. Kurikulum dalam pendidikan kejuruan berdasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dunia kerja/dunia industri.
  4. Jabatan atau pekerjaan dalam kelompok/keluarga sebagai salah satu pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan khususnya pada tingkat menegah.
  5. Inovasi merupakan bagian yang sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan.
  6. Seseorang dipersiapkan untuk dapat memasuki dunia kerja melali pendidikan kejuruan.
  7. Keselamatan merupakan unsur penting dalam pendidikan kejuruan.
  8. Pengawasan dan meningkatan pengalaman okupasi/pekerjaan dapat diberikan melalui pendidikan kejuruan. 

Pendidikan kejuruan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Karena itu peran sertanya dalam memberikan pelayanan bagi semua warga masyarakat pada berbagai usia kerja dalam kaitannya dengan berbagai kebiatan/bidang usaha, merupakan suatu keharusan dan kebutuhan nasional. Pelayanan pendidikan kejuruan yang efektif dan berhasil secara nasional akan turut meningkatkan taraf dan mutu kehidupan individu dalam aspek-aspek social , ekonomo, dan politik, baik tingkat daerah maupun nasional.

Pendidikan kejuruan dapat merupakan pendidikan yang efektif bilamana dapat memenuhi criteria, sebagai berikut:

  1. mensyaratkan siswa yang telah mampu membaca dan menulis dan bermotivasi menjadi warga negara yang baik.
  2. pendidikan kejuruan sangat tepat diberikan pada tingkatan lanjutan atas, dengan tidak menutup kemungkinan untuk diberikan pada tingkat sebelumnya.
  3. pendidikan kejuruan tepat diberikan kepada lulusan SLTA yang ingin memperoleh pengetahuan dan keterampilan, di bidang pekerjaan tertentu.
  4. pendidikan kejuruan sangat baik bagi para pemuda dan orang dewasa yang sudah bekerja untuk mengembangkan keterampilan baru atau utnuk meningkatkan keterampilan yang telah dimilikinya.
  5. pendidikan kejuruan dapat menyediakan program khusus para pemuda atau orang dewasa yang memerlukan keterampilan khusus.
  6. pendidikan kejuruan harus mengembangkan standar input, yang terdiri dari : Siswa : harus mempunyai sikap, bakat, kemampuan, dan motivasi untuk berhasil dalam program. Guru : harus mendapatkan latihan yang cukup, pengalaman dan pengetahuan teknologi serta cara mengajar keterampilan. Alat : harus sesuai dengan peralatan yang tersedia di lapangan kerja. Materi Pelajaran : harus lengkap dan memadai.
  7. pendidikan kejuruan dapat mengembangkan standar output yang terdiri dari: pengetahuan dan keterampilan khusus, Penampilan di bidangnya. dan Kemampuan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
  8. program pendidikan kejuruan adalah realistic dan berkaitan dengan pasaran kerja (teknik, industri, managemen, ekonomi, administrasi jasa, dllnya.

Untuk menambah pengetahuan pendidikan kejuruan dan teknologi, simak video obrolan yang sangat menarik terkait kurikulum merdeka dalam implementasi pendidikan kejuruan dan teknologi.


Pembelajaran Berbasis Kompetensi (CBT)

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukandengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasilpembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukurdalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.

Konsep pembelajaran berbasis kompetensi mensyaratkan dirumuskannyasecara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan peserta didik setelahmengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan tolok ukur pencapaian kompetensimaka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik akan terhindar dari mempelajarimateri yang tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainyapenguasaan kompetensi.

Pencapaian setiap kompetensi tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran.Dengan demikian komponen minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:

a.  pemilihan dan perumusan kompetensi yang tepat.

b.  spesifikasi indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.

c. pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengankompetensi dan sistem penilaian.

Terkait dengan aspek pembelajaran, Depdiknas (2002) menyatakan bahwapembelajaran berbasis kompetensi memiliki lima karakteristik sebagai berikut: (1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik secara individumaupun klasikal. (2) Berorientasi pada hasil belajar dan keragaman. (3)Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yangbervariasi. (4) Sumber belajar bukan hanya dosen tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. (5) Penilaian menekankan pada prosesdan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian kompetensi.

Karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi tersebut menuntutdosen/guru untuk selalu berinovasi dan berimprovisasi dalam menentukan metodedan strategi pembelajaran yang sesuai. Dalam proses pembelajaran yang banyakmengalami kendala, dosen/guru dituntut untuk mencari dan menemukanpendekatan baru yang efektif dan efisien. Namun pada saat ini guru/dosen dinilaimasih kurang memilki bekal pengetahuan didaktik, metodik, materi dankreativitas dalam pembelajaran (Dedi Supriyadi, 2001). Dalam kondisi seperti inimaka pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan kemampuandosen, dan tidak memberatkan pekerjaan dosen.

Prinsip-prinsip tersebut di atas sesuai dengan teori pendidikan kejuruan yang dikenal dengan Enam Belas Teori Prosser (Prosser dan Allen, 1952), tiga diantaranya adalah sebagai berikut :

a.     Pendidikan vokasi/kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan jika tugaslatihan dilakukan dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yangditerapkan di tempat kerja;

b.   Pendidikan vokasi/kejuruan akan efektif jika individu dilatih secara langsungdan spesifik untuk membiasakan bekerja dan berfikir secara teratur;

c. Menumbuhkan kebiasaan kerja yang efektif kepada siswa akan terjadi hanya jika pelatihan dan pembelajaran yang diberikan berupa pekerjaan nyata danbukan sekedar latihan.

 

Beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk penyiapantenaga kerja pada pendidikan vokasi/kejuruan antara lain : 1) Pembelajaran siswaaktif, 2) Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, 3) Pembelajaran kooperatifdan kolaboratif, 4) Pembelajaran discovery-learning, 5) Pembelajaran tematik(proyek/tugas), 6) Pembelajaran problem-solving, dan 7) Model pembelajaran berbasis teknologi informasi.


Sebagai penutui dalam artikel diatas, kami sediakan video  Bincang inspiratif Mendikbud dengan Dirjen Vokasi pada Lokakarya Kepala SMK.


Terima Kasih, Semoga Bermanfaat.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Multimedia Pembelajaran Interaktif


Istilah multimedia secara etimologis berasal dari kata multi dan media. Multi berarti banyak atau jamak dan media berarti sarana untuk menyampaikan pesan atau informasi seperti teks, gambar, suara, video.

Jadi secara bahasa istilah multimedia adalah kombinasi banyak atau beberapa media seperti teks, gambar, suara, video yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. 

Definisi     multimedia      secara      terminologis      adalah kombinasi berbagai media seperti teks, gambar, suara, animasi, video dan lain-lain secara terpadu dan sinergis melalui komputer atau peralatan elektronik lain untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengertian interaktif adalah hal yang terkait dengan komunikasi dua arah / suatu hal bersifat saling melakukan aksi, saling aktif dan saling berhubungan serta mempunyai timbal balik antara satu dengan lainnya (Warsita:2008).

Pengertian multimedia pembelajaran interaktif atau selanjutnya disebut MPI adalah suatu program pembelajaran yang berisi kombinasi teks, gambar, grafik, suara, video, animasi, simulasi secara terpadu dan sinergis dengan bantuan perangkat komputer atau  sejenisnya untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dimana pengguna dapat secara aktif berinteraksi dengan program.

Video Pembuatan Pembelajaran Interaktif.


Level interaktivitas suatu MPI  menunjukkan  seberapa aktif pengguna dalam berinteraksi dengan  program. Tingkatan interaktivitas dalam MPI dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Navigasi Video/Audio
2. Navigasi Halaman
3. Kontrol Menu/Link
4. Kontrol Animasi
5. Hypermap
6. Respon/Feedback
7. Drag and Drop
8. Kontrol Simulasi
9. Kontrol Game

Ditunjukan pada video berikut ini :


STRATEGI PENYAJIAN MPI

1. Metode drill-and-practice

Program MPI drill and practice berisi rangkaian soal-soal latihan guna meningkatkan ketrampilan dan kecepatan berfikir pada mata pelajaran tertentu, biasanya adalah matematika dan bahasa asing (vocabulary). Alur metode drill and  practice  adalah  seperti  pada gambar di bawah (Alessi & Trollip, 2001).



2. Metode Tutorial
Dalam metode tutorial, komputer berperan layaknya sebagai seorang guru. Siswa  harus  bisa  berpartisipasi aktif dalam  proses  belajarnya  dengan  berinteraksi dengan komputer. Alur metode tutorial dapat dilihat pada gambar berikut (Alessi & Trollip, 2001).


3. Metode Simulasi

Program multimedia pembelajaran dengan metode simulasi memungkinkan siswa memanipulasi berbagai aspek dari sesuatu yang disimulasikan  tanpa  harus  menanggung  resiko  yang tidak menyenangkan. Alur metode simulasi adalah sebagai berikut (Alessi & Trollip, 2001).


Video Strategi Pembuatan Video Pembelajaran Interaktif:

Dalam pembelajaran di kelas, guru harus bisa mengelola siswa dan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam belajar.  Tetapi,  karena  MPI dimaksudkan untuk dipelajari siswa secara mandiri, maka pengembang MPI harus memikirkan bagaimana caranya meningkatkan motivasi belajar pada saat mempelajari MPI. Teori motivasi Maloni (1987) mengidentifikasi empat hal untuk mempertahankan agar siswa tetap termotivasi dalam pembelajaran, yaitu tantangan, keingintahuan, control, dan fantasi.



Video Komponen pada Multimedia Pembelajaran Interkatif


Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Prosedur Penyusunan Modul

Modul

Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.

Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metoda, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri.

Berikut ini video terkait pembuatan modul ajar Kurikulum Merdeka :



Dalam Materi pelatihan KTSP 2009 dijabarkan beberapa prosedur penyusunan pembuatan modul yaitu:

1. Tahap Persiapan

2. Tahap Penyusunan

3. Tahap Validasi dan Penyempurnaan

Edupreneurship Satuan Pendidikan

 Implementasi Edupreneurship 

Satuan Pendidikan Kejuruan



Keterangan Gmabar, Dimulai dari peserta didik baru memasuki satuan Pendidikan SMK, satuan Pendidikan yang dipimpin oleh kepala sekolah memiliki program edupreneurship, dalam konsep program tersebut melibatkan peserta didik untuk belajar terkait usaha kreatif atau inovatif untuk memperoleh prestasi baik pengetahuan maupun keterampilan dan berkarakter. Kepala sekolah yang menjadi edupreneurs adalah seorang yang mampu mengatur dan mengelola sebuah Lembaga sekolah dengan inisiatif, inovasi dan resiko. Melalui pembelajaran yang berbasis kewirausahaan dapat di implementasikan dalam berbagai bentuk metode pembelajaran produksi dan bisnis antara lain: teaching factory, teaching industry, hotel training, incubator unit dan business center. Dari program tersebut diharapkan memperoleh output peserta didik yang siap kerja, memiliki jiwa wirausaha dan siap melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

Teaching factory merupakan suatu konsep pembelajaran kotektual yang mendekatkan siswa ke dalam situasi kerja yang sesungguhnya, dapat diartikan merupakan sebuah replika industri yang memiliki peralatan dan standar operasional prosedur setara dengan industri.

Teaching factory merupakan perpaduan model pembelajaran Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT). CBT adalah pembelajaran berbasis kompetensi kerja yang sesuai dengan prosedur dan standar kerja untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan industri/konsumen/pasar. PBT adalah pembelajaran berbasis produksi yang mengutamakan produk barang atau jasa yang berkualitas namun produk tersebut tidak untuk dipakai secara umum atau di pasarkan, dalam artian produk hanya untuk menghasilkan nilai dalam proses belajar mengajar.

Pada umumnya pembelajaran teaching factory bertujuan untuk melatih siswa berdisiplin, meningkatkan kompetensi keahlian siswa, menanamkan mental kerja supaya mudah beradaptasi dengan situasi dan kondisi dunia industri.

Business center adalah pusat kegiatan bisnis atau pusat kegiatan ekonomi yang bertujuan mencari keuntungan, adapun implementasi yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam rangka menumbuhkembangkan jiwa kewirasuhaan kepada peserta didik, yaitu:
a. Melalui mata pelajaran projek kreatif kewirausahaan (PKK), dengan memberikan pengetahuan bisnis dan membuat sebuah produk kreatif baik sekala keciap maupun sekala besar.
b. Melalui teaching factory yang dimiliki sesuai dengan kejuruannya.
c. Membuat atau menyelenggarakan bazar dengan tema-tema tertentu untuk menambah semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan edupreneurship.

Dalam membangun edupreneurship memerlukan manajemen struktur organisasi yang solid namun lebih fleksibel terhadap perubahan. Dalam membangun organisasi dapat menggunakan open system yaitu dalam dunia Pendidikan dapat diterapkan dengan memanfaatkan berbagai macam bentuk kerjasama dengan lingkungan eksternal seperti dengan DUDI, komite sekolah, dan masyarakat umum

Penjamin mutu produk, mutu adalah merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan (Fandy Tjiptono: 2004). Penjamin mutu secara umum dilakukan untuk mencegah permasalahan mutu melalui perencanaan dan kegiatan yang sistematis.

Produk dan jasa edupreneurship perlu dikenal untuk digunakan oleh masyarakat luas. Pengguna produk dan jasa layanan Pendidikan adalah orang tua siswa, instansi pemerintah, DUDI serta masyarakat umum. Agar produk dapat dikenal dan digunakan oleh masyarakat luas maka perlu dilakukan pemasaran (Schiffman & Kanuk: 2004).

Kerjasama merupakan kagiatan atau praktik-praktik antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama, pada umumnya kerjasama bertujuan untuk menghemat biaya dan waktu.

Prinsip-prinsip kerjasama dalam edupreneurship, yaitu :

a. Saling membutuhkan, diman kedua belah pihak memiliki kemitraan yang saling membutuhkan, sebagai contoh DUDI membuthkan pasokan tenaga kerja lulusan SMK sedangkan SMK membutuhkan DUDI sebagai tmapat penyaluran tenaga kerja.

b.  Saling mempercayai, kemitraan untuk saling terbuka antara kedua belah pihak terhadap apa yang diperoleh atau dimiliki. Sebagai contoh memliki aset sumber daya manusia dan aset sarana.

c.   Saling memperkuat, kemitraan untuk menguatkan satu sama lain dari kedua belah pihak untuk meningkatkan daya saing. Sebagai contoh SMK menjadi pemasok produk yang berkualitas dan harga terjangkau, perusahaan memberikan kepercayaan kepada SMK untuk menglola sebagian dari sistem produksi, sehingga menjadi contoh bagi SMK yang lain.

d.  Saling menguntungkan, kemitraan antara kedua belah pihak saling memberkan keuntungan. Sebagai contoh DUDI menjadi tempat pemagangan guru SMK, DUDI memanfaatkan kerjasama tersebut untuk mengenalkan produk dan meningkatkan citra DUDI di masyarakat.


Adapun bentuk-bentuk kemitraan yang berpeluang dilakukan oleh SMK, yaitu: resource sharing, built operation and transfer (BOT) dan asset based community development (ABSD)

Portofolio Pribadi 07

Strategi Pembelajaran PTK

Penilaian Hasil Belajar


Penilaian adalah bagian dari cara untuk membuat orang belajar, sehingga penilaian harus mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik dan bagi guru agar ia mengajar yang lebih baik (Djemari Mardapi, 2007: 6). Penilaian dan pembelajaran adalah proses yang saling mempengaruhi. Hasil penilaian dapat mengungkapkan keberhasilan proses pembelajaran, artinya proses pembelajaran akan menentukan keberhasilan penilaian. Sistem penilaian harus dapat mendorong pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik.

Reeves (2004: 7) menyatakan: ―Assessment and acconutability drive every other element of the education delivery system, including instructional design, classroom technique, allocation of resources, administrative practice, and central effice decision making”. Pendapat Reeves ini mengisyaratkan bahwa penilaian dan pertanggungjawaban dalam pendidikan akan mengarahkan setiap elemen sistem pendidikan, termasuk perencanaan kurikulum, teknik pembelajaran di kelas, alokasi sumber daya, pelaksanaan administrasi dan pengambilan keputusan sekolah.

Penilaian mencakup semua proses pembelajaran, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Depdiknas (2008: 6) mengungkapkan salah satu prinsip dalam penilaian hasil belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah bahwa penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran dan penilaian merupakan suatu rangkaian proses yang tidak dapat dipisahkanketika merencanakan suatu pembelajaran, sudah harus ditentukan strategi dan model penilaian. Demikian juga sebaiknya, hasil penilaian harus digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merencanakan pembelajaran berikutnya (Budi Santoso, 2014:61).

Pada tahun 2021-2022 Pemerintah Republik Indonesia menerapkan kurikulum merdeka, berkaitan dengan implementasi dalam melaksanakan penilaian hasil belajar peserta didik dapat di simak dalam video dibawah ini : 



Penilaian Berbasis Kompetensi

Benjamin S. Bloom (1979: 7) membagi aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melali minat, perhatian, sikap serta nilai-nilai. Kedua kawasan tersebut melibatkan otak dan perasaan, belum melibatkan otot atau kemampuan fisik. Baru pada kawasan yang ketiga kekuatan fisik dilibatkan, oleh karena kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik.

Lebih lanjut Bloom (1979: 62) hasil belajar pada kawasan kognitif dibagi menjadi enam peringkat, dari peringkat yang paling sederhana sampai dengan peringkat yang paling komplek. Keenam peringkat tersebut adalah (dari peringkat sederhana sampai yang paling kompleks) pengetahuan, komprehensi, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Selanjutnya Bloom juga membagi kawasan afektif menjadi lima peringkat dari peringkat yang paling sederhana sampai peringkat yang kompleks. Kelima peringkat tersebut adalah penerimaan, tanggapan, nilai-nilai, organisasi dan pemeranan.

Karakteristik Penilaian Berbasis Kompetensi

Terdapat beberapa karakteristik penilaian berbasis kompetensi yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan penilaian berbasis kompetensi, karakteristik-karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1). Belajar tuntas, (2) Oentik, (3). Berkesinambungan, (4). Berdasarkan acuan kriteria, dan (5). Menggunakan teknik penilaian yang bervariasi.

Strategi Penilaian Hasil Pembelajaran

Mengacu pada Lampiran permendikbud 81A Tahun 2013, strategi penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan metode dan teknik penilaian sebagai berikut: (1). Metode Penialian, dan (2). Teknik dan Instrumen Penilaian, 

Penilaian Hasil Belajar Praktik

Bloom (1979: 7) membedakan aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui minat, perhatian, sikap, serta nilai-nilai. Pada kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kemampuan fisik.