Model Pengajaran Pendidikan Vokasi
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak lepas dari strategi agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara optimal, untuk itu sekolah menerapkan berbagai model sesuai dengan program studinya dan karakteristik peserta didik. Kata model dapat diartikan sebagai pola atau bentuk. Kaitannya dengan pendidikan kejuruan kata model di sini mengandung pengertian sebagai suatu bentuk atau pola penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Munculnya berbagai model penyelenggaraan pendidikan kejuruan, tidak dapat dilepaskan dengan masyarakat dan kebutuhannya.
Simanjutak dalam Heru Subroto (2004) mengemukakan tiga model pendidikan kejuruan dalam pengertian tenaga kerja yang terampil yaitu (1) sekolah kejuruan, (2) sistem kerjasama dan (3) kombinasi pendidikan dan latihan. Model sekolah kejuruan dalam pengertiannya adalah pendidikan yang penyelenggaraanya bersifat formal. Model ini banyak diterapkan diberbagai negara, di Indonesia berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penyelenggaraan pada SMK di sekolah dengan materi terbagi menjadi dua bagian, teori diberikan di dalam kelas dan praktek dilakukan di laboratorium/ bengkel. Seluruh kegiatan pendidikan teori dan praktek yang dilakukan di sekolah dengan programnya menitik beratkan pada bentuk-bentuk keterampilan dasar.
Model sekolah produksi merupakan pengembangn lebih lanjut dari sekolah kejuruan. Grenert dan Weimann dalam Heru Subroto (2004) membedakan sekolah produksi dalam tiga model dasar yaitu : (1) Sekolah produksi sederhana (Der einwickelte produktionsschullyp Training Cum production), (2) Sekolah produksi yang berkembang (Der einwicketeproduktionsschulltyp), (3) Sekolah produksi yang berkembang dalam bentuk pabrik sebagai tempat belajar (Der inwickelte Produktionsschulltyp inform der Lernfabrik Produktion Training Corporation).
Model pertama yaitu sekolah produksi sederhana dalam pelaksanaannya mempunyai bentuk sederhana yang mempunyai sifat mendasar. Ciri khas model ini mengacu pada ciri-ciri organisasi pada suatu sekolah. Antara sekolah produksi dan kegiatan pendidikan tercakup dalam lembaga dan bentuk organisasinya ditentukan oleh peraturan tentang persekolahan yang birokratis. Sekolah semacam ini dilengkapi dengan bengkel atau suatu bangunan gedung untuk kegiatannya. Dilihat dari simulasi realitas perusahaan (Die Simulation der betibsrealitat), setaraf dengan perusahaan pekerjaan tangan. Gerak ke luar yang dilakukan sekolah ini terbatas. Struktur prestasi dan struktur personalia pada umumnya tunduk pada norma-norma organisasi sekolah.
Model kedua, yaitu sekolah produksi yang berkembang (training and production), pelaksanaanya merupakan penggabungan antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan produksi. Bentuk organisasi ini ditandai kombinasi antara bagian pendidikan dengan bagian produksi. Sekolah semacam ini dilengkapi bengkel untuk pendidikan dan bengkel untuk produksi. Taraf simulasinya setingkat dengan perusahaan manufaktur. Sekolah ini tidak terikat dengan peraturan persekolahan yang birikratis, sehingga lebih cenderung bebas.
Model ketiga, yaitu sekolah produksi yang berkembang dalam bentuk pabrik tempat belajar (Production Training Coorporation). Model ini disebut pula dengan model Teaching Factory. Penyelenggaran model ini memadukan sepenuhnya antara belajar dan bekerja, setidaknya dalam bidang pokok atau inti. Bentuk organisasinya menunjukan sifat perusahaannya, sedangkan taraf simulasinya setingkat dengan pembuatan barang jadi yang modern. Tenaga pengajarnya terdiri dari para pakar dan insinyur yang berminat dan berbekal ilmu pendidikan dan telah ditempa terlebih dahulu. Sekolah ini didirikan mempunyai kaitan dengan kerangka strategi pengembangan yang berskala besar dalam fungsi-fungsi mengamati masalah pendidikan sebagai pendidikan lanjutan, memberi informasi, konsultasi dan pengembangannya. Teaching factory merupakan salah satu inovasi dalam upaya pemberdayaan SMK agar lebih bermutu. Prinsip ini menempatkan SMK selain sebagai penghasil lulusan yang merupakan calon tenaga kerja yang handal dan kompeten juga berperan sebagai penghasil produk maupun jasa yang layak jual. Dengan prinsip ini SMK dapat mengembangkan unit usaha baik penghasil produk maupun jasa yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dari ketiga model pembelajaran vokasi yang dapat dilaksanakan di suatu lembaga atau satuan pendidikan secara spesifikasi diulas dalam video berikut ini terkait peluang kerja yang ada pada suatu kompetesni keahlian yang ada pada pendidikan vokasi.
A. Pembelajaran Berbasis Interaksi Sosial
Model pembelajaran interaksi social menekankan pada adanya hubungan antara peserta didik dengan lingkungan kehidupan. Tujuan pembelajaran interaksi social menitikberatkan bagaimana peserta didik dapat memahami kebersamaan dan mengerti kehidupan bersama di masyarakat atau learning to life together. Setiap peserta didik tidak bisa memisahkan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Dengan pembelajaran inetraksi social, peserta didik akan mengerti dan memahami makna hubungan interaksi social dan kehidupan social. Pembelajaran interaksi sosial dapat memberikan wawasan berfikir kepada peserta didik tentang sikap atau prilaku yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan model ini, peserta didik akan diajarkan tentang bagaimana bersikap dan menghadapi kondisi masyarakat social yang ada. Pembelajaran interaksi sosial dapat memandu siswa untuk memiliki daya mental yang lebih baik dan kesehatan emosi yang lebih akseptabel dengan cara mengembangkan kepercayaan diri dan perasaan realitis serta menumbuhkan empati kepada orang lain. Pembelajaran menjadi wahana untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat berinteraksi secara ekstensif dengan masyarakat, mengembangkan sikap dan perilaku demokratis (Muhammad Mushfi El Iq Bali, 2017: 227).
Pembelajaran interaksi social pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik sebagai bekal untuk di masyarakatnya. Dalam melangsungkan kehidupan di masyarakat, keterampilan sosial sangat dibutuhkan agar tercipta keharmonisan dan kedamaian. Interaksi social dapat berjalan dengan baik manakala masing-masing individu memahami nilai-nilai social. Prilaku santun, menghargai sesama, demokratis, jujur, adil dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai social yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik sebagai bagian dari masyarakat. Untuk menanamkan nilai-nilai karakter itu, seorang guru dituntut agar dapat mendesain secara baik dan sungguh-sungguh dengan berbagai cara dan media belajar sehingga nilai-nilai karakter tersebut dapat menjadi perilaku permanen bagi peserta didik. Pembelajaran interaksi social diharapkan dapat mengantarkan peserta didik mempunyai kepribadian dan nilai-nilai karakter mulia. Karakter yang dimaksud, seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab(Afifah Zafirah, 2018:104). Pada kenyataannya, masih banyak peserta didik yang masih kurang menaruh perhatian terhadap nilai-nilai karakter seperti, sopan santun, kurang berbagi dengan sesama, kurang memilki rasa hormat, egois dalam bersikap, masa bodoh dengan lingkungannya dan tidak berempati dengan sesamanya. Hal ini harus menjadi perhatian bersama untuk segera dibenahi, diantaranya melalui proses pembelajaran yang efektif. Salah satu hal yang dapat ditempuh dalam pendidikan karakter yaitu dengan menggunakan model pembelajaran interaksi social. Model pembelajaran interaksi social dapat membantu peserta didik dalam belajar berinteraksi. Keberadaan model pembelajaran interaksi social berfungsi membantu siswa memperoleh informasi tentang bagaimana hidup di masyarakat, gagasan berkomunikasi baik, keterampilan sosial, berempati, bersimpati yang diajarkan di kelas dan diekspresikan dalam kegiatan belajar. Model ini dapat mengajarkan dan melatih peserta didik terhadap semua nilai-nilai karakter yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat sebagai bekal peserta didik menjalani kehidupan di masyarakat secara riil.
Video terkait pembelajaran berbasis interaksi sosial:
B. Pembelajaran Berbasis Pemrosesan Informasi
Teori belajar oleh Gagne (1988) disebut dengan “Information Processing Learning Theory”. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga Information-Processing Model oleh Lefrancois atau Model Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar.. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, kecakapan motorik.
Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut.
Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini berkenaan dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif, serta
Video terkait pembelajaran berbasis pemroses informasi:
C. Pembelajaran Berbasis Aktivitas Personal
Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang inspiratif hal utama yang perlu di perhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk senang dan menyukai pelajaran. Rasa senang terhadap pelajaran ini akan menjadi modal penting dalam diri siswa untuk menekuni pembelajaran yang lebih optimal, sehingga para siswa akan lebih bersemangat dalam belajar.
Hasil belajar siswa merupakan ukuran dalam belajar siswa yang menunjukkan seberapa jauh pemahaman yang telah diperoleh dalam proses pembelajarannya. Pembentukan siswa yang secara utuh atau memiliki hasil belajar yang seimbang antara kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik merupakan tujuan paling utama dalam proses pembelajaran. Pembentukan siswa yang cerdas serta memiliki sifat positif dan secara motorik terampil, misalkan kemampuan dalam mengamati, kemampuan dalam mencari sebuah data, kemampuan dalam menganalisis suatu permasalahan, mengkomunikasikan suatu hasil penemuan, maupun yang lainnya merupakan hasil belajar yang diharapkan dari suatu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu adanya model pembelajaran yang dapat mempengaruhi pemahaman dan hasil belajar siswa dari model sebelumnya. Dimana dalam hal ini guru masih menggunakan metode cerah dalam proses pembelajarannya sehingga siswa kurang tertarik dalam proses pembelajaran yang dapat berdampak pada kemampuan berpikir, dan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran tersebut ialah model pembelajaran berbasis aktivitas siswa (PBAS).
Pembelajaran berbasis aktivitas siswa (PBAS) merupakan model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas belajar siswa secara langsung. Model pembelajaran ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa agar informasi yang disampaikan lebih bermanfaat dan dapat menambah pengetahuannya. Melalui pembelajaran ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi yang didapatkannya, tetapi bagaimana cara siswa menerapkan informasi yang didapatkannya dalam kehidupannya. Dihubungkan dengan suatu tujuan pendidikan yang ingin dicapai yang dimana bukan hanya membentuk manusia yang cerdas, akan tetapi yang lebih penting ialah membentuk kemampuan yang ada pada diri siswa yang bertakwa dan memiliki keterampilan. (Dewi, 2017).
Video terkait pembelajaran berbasis aktivitas personal:
D. Pembelajaran Berbasis Sistem Perilaku
Model adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Dengan demikian model pembelajaran dapat diartikan kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan pengertian model pembelajaran perilaku adalah kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik yang didasari pada tanggapan atau reaksi peserta didik terhadap rangsangan atau lingkungan.
Semua model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku, seperti teori belajar perilaku, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Ciri-ciri sistem model perilaku atau Behavioral Models yaitu:
a. Seluruh model pada kelompok ini didasarkan pada hasil sharing kajian teori-teori secara umum, yang kemudian dipersandingkan/ diintegrasikan dengan teori-teori perilaku (yang dikondisikan).
b. Beberapa teori yang mendasari: teori-teori belajar secara umum, teori belajar sosial, teori modifikasi perilaku, dan teori-teori terapi perilaku.
c. Secara umum menekankan pada perubahan perilaku yang terlihat (observable) dibanding perilaku-perilaku secara psikologis atau perilaku yang tidak bisa diamati.
d. Penerapan prinsip-prinsip stimulus terkontrol dan reinforcement yang menjadi dasar penerapan model pembelajaran interaktif dan mediasi belajar terkondisikan, baik pada pembelajaran secara individu maupun kelompok.
e. Pengembangan kemampuan belajar melaui fakta-fakta, konsep-konsep dan keterampilan dipandang sama baiknya untuk mereduksi tingkat kecemasan maupun untuk memperoleh kegiatan relaksasi individu.
Video terkait pembelajaran berbasis sistem prilaku:
Terimakasih dan semoga bermanfaat.