Penilaian Hasil Belajar Praktik

 PENILAIAN HASIL BELAJAR PRAKTIK


A. Penilaian Berbasis Kompetensi

Penilaian mencakup semua proses pembelajaran, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Depdiknas (2008: 6) mengungkapkan salah satu prinsip dalam penilaian hasil belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah bahwa penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran dan penilaian merupakan suatu rangkaian proses yang tidak dapat dipisahkanketika merencanakan suatu pembelajaran, sudah harus ditentukan strategi dan model penilaian. Demikian juga sebaiknya, hasil penilaian harus digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merencanakan pembelajaran berikutnya (Budi Santoso, 2014:61).

Benjamin S. Bloom (1979: 7) membagi aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melali minat, perhatian, sikap serta nilai-nilai. Kedua kawasan tersebut melibatkan otak dan perasaan, belum melibatkan otot atau kemampuan fisik. Baru pada kawasan yang ketiga kekuatan fisik dilibatkan, oleh karena kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik.

Lebih lanjut Bloom (1979: 62) hasil belajar pada kawasan kognitif dibagi menjadi enam peringkat, dari peringkat yang paling sederhana sampai dengan peringkat yang paling komplek. Keenam peringkat tersebut adalah (dari peringkat sederhana sampai yang paling kompleks) pengetahuan, komprehensi, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

B. Karakteristik Penilaian Berbasis Kompetensi

Pembelajaran pada bidang kejuruan mengacu pada pembelajaran berbasis kompetensi, oleh karena itu penilaian terhadap pencapaian hasil belajar sudah selayaknya mengacu pada penilaian berbasis kompetensi. Terdapat beberapa karakteristik penilaian berbasis kompetensi yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan penilaian berbasis kompetensi,

Berikut video penilaian berbasis kompetensi :



C. Strategi Penilaian Hasil Belajar

Mengacu pada Lampiran permendikbud 81A Tahun 2013, strategi penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan metode dan teknik penilaian sebagai berikut.

1. Metode Penilaian

Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan metode tes dan nontes. Metode tes dipilih bila respons yang dikumpulkan dapat dikategorikan benar atau salah, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pada kompetensi inti kategori pengetahuan dan ketrampilan. Tetapi apabila respons jawaban yang dikumpulkan tidak dapat dikategorikan benar atau salah digunakan metode nontes, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pada kompetensi inti kategori spiritual dan sosial.

Berikut video IKM dengan tema "Metode Penilaian pada Kurikulum Merdeka" :



2. Teknik dan Instrumen Penilaian

Untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai teknik, baik berhubungan dengan proses maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian kompetensi. Penilaian dilakukan berdasarkan indikatorindikator pencapaian hasil belajar, yang meliputi ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Berikut video Tknik dan Instrumen Penilaian :



D. Penilaian Hasil Belajar Praktik

Bloom (1979: 7) membedakan aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui minat, perhatian, sikap, serta nilai-nilai. Pada kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kemampuan fisik.

Hasil belajar keterampilan dapat diukur dengan cara (a) pengamatan langsung serta penilaian tingkah laku peserta didik pada waktu proses belajar berlangsung, (b) sesudah mengikuti pembelajaran praktik dengan jalan memberikan test kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan keterampilan serta sikapnya, (c) beberapa waktu sesudah pembelajaran praktik selesai, misalnya penilaian dari kebersihan peserta didik dalam pekerjaan (kondisi tempat kerja, alat-alat, mesin-mesin setelah digunakan). Menurut Leighbody (1968) keterampilan praktik dapat diukur dari beberapa hal berikut.

1. Kualitas pekerjaan, hal ini dapat diukur dari ketelitian, kecepatan menyelesaikan pekerjaan, dan hasil pekerjaannya.

2. Keterampilan menggunakan alat dan mesin-mesin, hal ini dapat dikur dari effisiensi, ketepatan menggunakan alat, menjaga keselamatan kerja alat dan mesin.

3. Kemampuan menganalisis pekerjaan dan perencanaan langkah-langkah mulai dari saat dikerjakan sampai selesai.

4. Kemampuan menggunakan informasi untuk pertimbangan dalam bekerja.

5. Kemampuan membaca diagram, gambar-gambar, simbul-simbul teknik dan penggunaan buku manual.

Berikut video IKM dengan tema "Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik" :



Peningkatan Mutu Pembelajaran Melalui Teknologi Informasi

 PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI

DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN


Pada ranah pembelajaran, target mutu yang dirancang perlu disesuaikan dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan khusus untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah perlu memperhatikan pula target-target yang telah ditetapkan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dari tingkat pusat, wilayah sampai daerah. Untuk mencapai target mutu dalam proses pembelajaran, perlu dilakukan langkah-langkah strategis dengan menetapkan berbagai cara dan strategi serta melibatkan semua resources yang tersedia termasuk teknologi infomasi.

Video Berita terkait peningkatan Mutu Pembelajaran, dari TvMU :


Untuk menambah wawasan, video diskusi antar PWNU dengan KEMDIKBUD terkait Memperkuat Mutu Pendidikan Kita.


PENGARUH TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah mempengaruhi secara nyata perkembangan cara-cara yang digunakan dalam proses pendidikan. Produk-produk hasil perkembangan teknologi informasi (TI) telah menginvasi secara langsung di hampir seluruh aspek pendidikan, dan memunculkan pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar (Lustigova & Lustig, 2009). Sekurang-kurangnya terdapat 4 pergeseran paradigma pembelajaran saat ini, yakni (1) dari terpusat pada guru menuju terpusat pada siswa, (2) dari sekedar penyampaian pengetahuan menuju pengembangan kecerdasan multi konteks, (3) dari pengajaran berbasis tempat terbatas menuju belajar berwawasan global, lokal dan individual, dan (4) dari buku teks yang terbatas menuju sumber-sumber belajar yang sangat beragam termasuk pengalaman-pengalaman dari suatu komunitas, belajar berbasis web, ekspos internasional dan materi-materi kelas dunia (Cheng, 2005). Berikut video peningkatan mutu Pendidikan melalui Teknologi Informasi :


APLIKASI DESKTOP VERSUS WEB SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran pada umumnya diimplementasikan ke dalam dua jenis program aplikasi yakni aplikasi desktop dan aplikasi berbasis web. Aplikasi desktop diartikan sebagai program aplikasi komputer yang dapat berjalan secara offline (komputer tidak terhubung ke jaringan internet). Pada aplikasi ini, pengguna memasang program aplikasi pada komputer/laptopnya sesuai dengan sistem operasi yang digunakannya. Dalam menjalankan aplikasi ini, pengguna tidak memerlukan adanya jaringan internet, karena aplikasi dapat berjalan secara offline pada komputernya. Karena bersifat offline, semua file pendukung aplikasi berada pada komputer lokal, sehingga aplikasi desktop dapat berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan aplikasi web yang berjalan secara online. Selain itu, dengan aplikasi desktop pengguna dapat dengan mudah melakukan perubahan-perubahan pada setting programnya. Namun, dengan menggunakan aplikasi desktop pengguna tidak dapat menjalankannya pada kompter lain karena aplikasi ini harus dipasang dulu programnya di komputer yang akan digunakan untuk menjalankannya. Kekurangan lain dari aplikasi desktop adalah setiap program yang dipasang pada setiap komputer pada umumnya membutuhkan lisensi dari pabriknya, dan hal ini memerlukan biaya. Selain itu, program-program aplikasi desktop pada umumnya memerlukan dukungan perangkat keras dengan spesifikasi yang tinggi sehingga memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan jika pengguna menggunakan aplikasi berbasis web.


INTERNET SEBAGAI BASIS PEMBELAJARAN ONLINE

Internet didefinisikan sebagai jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia dengan menggunakan prosedur tertentu. Secara ilustratif jaringan internet dapat digambarkan seperti pada gambar 1 berikut ini.



berikut video dengan tema internet sebagai media belajar:


Terima Kasih Semoga Bermanfaat.

Konsep Pembelajaran Berbasis Kompetensi

KONSEP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

BERBASIS KOMPETENSI


Pendidikan Kejuruan.

Pendidikan kejuruan adalah bagian dari pendidikan yang mencetak individu agar supaya dia dapat bekerja pada kelompok tertentu. (Evan, 1978). Pendidikan kejuruan suatu program yang berada di bawah pendidikan tinggi yang diorganisasi menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja tertentu atau meningkatkan pekerjaan dalam dunia kerja. (Good, 1959)

Pendidikan kejuruan bermaksud menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja tingkat menengah tertentu yang sesuai dengan tuntutan yang dipersyaratkan oleh dunia kerja, dan memberikan bekal kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya.Oleh karena pendidikan kejuruan pada dasarnya mengarahkan peserta didik pada bidang tertentu melalui suatu organisasi , tentulah hasil pendidikan ini dapat dipakai sebagai bekal mencari kehidupan atau nafkah. Pendidikan ini dapat juga dinamakan : ’education for earning a living

Seperti kata Prosser. 1949 bahwa: “education as preparation for society as it is”, yang mengandung arti adanya pembudayaan (alkulturasi), dan tentu saja hal ini berbeda dengan gagasan Dewey. 1900. yakni “education is preparation to change for society” atau pendidikan justru akan merubah masyarakat. Namun di dalam masyarakat pendapat kedua pakar itu dibutuhkan semua. Menurut Slamet PH, bahwa di samping kedua hal tersebut pendidikan juga bertugas untuk menumbuhkan kemampuan untuk beralkurturasi secara kritis.

Muller. 1986 memberikan 8 prinsip pengajaran pendidikan kejuruan, yaitu :

  1. Kesadaran akan karir. Kesadaran akan karir merupakan bagian penting dalam pendidikan kejuruan khusunya pada proses awal pendidikan itu sendiri.
  2. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang menyeluruh dan merpakan bagian dari masyarakat (public system).
  3. Kurikulum dalam pendidikan kejuruan berdasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dunia kerja/dunia industri.
  4. Jabatan atau pekerjaan dalam kelompok/keluarga sebagai salah satu pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan khususnya pada tingkat menegah.
  5. Inovasi merupakan bagian yang sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan.
  6. Seseorang dipersiapkan untuk dapat memasuki dunia kerja melali pendidikan kejuruan.
  7. Keselamatan merupakan unsur penting dalam pendidikan kejuruan.
  8. Pengawasan dan meningkatan pengalaman okupasi/pekerjaan dapat diberikan melalui pendidikan kejuruan. 

Pendidikan kejuruan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Karena itu peran sertanya dalam memberikan pelayanan bagi semua warga masyarakat pada berbagai usia kerja dalam kaitannya dengan berbagai kebiatan/bidang usaha, merupakan suatu keharusan dan kebutuhan nasional. Pelayanan pendidikan kejuruan yang efektif dan berhasil secara nasional akan turut meningkatkan taraf dan mutu kehidupan individu dalam aspek-aspek social , ekonomo, dan politik, baik tingkat daerah maupun nasional.

Pendidikan kejuruan dapat merupakan pendidikan yang efektif bilamana dapat memenuhi criteria, sebagai berikut:

  1. mensyaratkan siswa yang telah mampu membaca dan menulis dan bermotivasi menjadi warga negara yang baik.
  2. pendidikan kejuruan sangat tepat diberikan pada tingkatan lanjutan atas, dengan tidak menutup kemungkinan untuk diberikan pada tingkat sebelumnya.
  3. pendidikan kejuruan tepat diberikan kepada lulusan SLTA yang ingin memperoleh pengetahuan dan keterampilan, di bidang pekerjaan tertentu.
  4. pendidikan kejuruan sangat baik bagi para pemuda dan orang dewasa yang sudah bekerja untuk mengembangkan keterampilan baru atau utnuk meningkatkan keterampilan yang telah dimilikinya.
  5. pendidikan kejuruan dapat menyediakan program khusus para pemuda atau orang dewasa yang memerlukan keterampilan khusus.
  6. pendidikan kejuruan harus mengembangkan standar input, yang terdiri dari : Siswa : harus mempunyai sikap, bakat, kemampuan, dan motivasi untuk berhasil dalam program. Guru : harus mendapatkan latihan yang cukup, pengalaman dan pengetahuan teknologi serta cara mengajar keterampilan. Alat : harus sesuai dengan peralatan yang tersedia di lapangan kerja. Materi Pelajaran : harus lengkap dan memadai.
  7. pendidikan kejuruan dapat mengembangkan standar output yang terdiri dari: pengetahuan dan keterampilan khusus, Penampilan di bidangnya. dan Kemampuan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
  8. program pendidikan kejuruan adalah realistic dan berkaitan dengan pasaran kerja (teknik, industri, managemen, ekonomi, administrasi jasa, dllnya.

Untuk menambah pengetahuan pendidikan kejuruan dan teknologi, simak video obrolan yang sangat menarik terkait kurikulum merdeka dalam implementasi pendidikan kejuruan dan teknologi.


Pembelajaran Berbasis Kompetensi (CBT)

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukandengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasilpembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukurdalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.

Konsep pembelajaran berbasis kompetensi mensyaratkan dirumuskannyasecara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan peserta didik setelahmengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan tolok ukur pencapaian kompetensimaka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik akan terhindar dari mempelajarimateri yang tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainyapenguasaan kompetensi.

Pencapaian setiap kompetensi tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran.Dengan demikian komponen minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:

a.  pemilihan dan perumusan kompetensi yang tepat.

b.  spesifikasi indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.

c. pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengankompetensi dan sistem penilaian.

Terkait dengan aspek pembelajaran, Depdiknas (2002) menyatakan bahwapembelajaran berbasis kompetensi memiliki lima karakteristik sebagai berikut: (1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik secara individumaupun klasikal. (2) Berorientasi pada hasil belajar dan keragaman. (3)Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yangbervariasi. (4) Sumber belajar bukan hanya dosen tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. (5) Penilaian menekankan pada prosesdan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian kompetensi.

Karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi tersebut menuntutdosen/guru untuk selalu berinovasi dan berimprovisasi dalam menentukan metodedan strategi pembelajaran yang sesuai. Dalam proses pembelajaran yang banyakmengalami kendala, dosen/guru dituntut untuk mencari dan menemukanpendekatan baru yang efektif dan efisien. Namun pada saat ini guru/dosen dinilaimasih kurang memilki bekal pengetahuan didaktik, metodik, materi dankreativitas dalam pembelajaran (Dedi Supriyadi, 2001). Dalam kondisi seperti inimaka pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan kemampuandosen, dan tidak memberatkan pekerjaan dosen.

Prinsip-prinsip tersebut di atas sesuai dengan teori pendidikan kejuruan yang dikenal dengan Enam Belas Teori Prosser (Prosser dan Allen, 1952), tiga diantaranya adalah sebagai berikut :

a.     Pendidikan vokasi/kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan jika tugaslatihan dilakukan dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yangditerapkan di tempat kerja;

b.   Pendidikan vokasi/kejuruan akan efektif jika individu dilatih secara langsungdan spesifik untuk membiasakan bekerja dan berfikir secara teratur;

c. Menumbuhkan kebiasaan kerja yang efektif kepada siswa akan terjadi hanya jika pelatihan dan pembelajaran yang diberikan berupa pekerjaan nyata danbukan sekedar latihan.

 

Beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk penyiapantenaga kerja pada pendidikan vokasi/kejuruan antara lain : 1) Pembelajaran siswaaktif, 2) Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, 3) Pembelajaran kooperatifdan kolaboratif, 4) Pembelajaran discovery-learning, 5) Pembelajaran tematik(proyek/tugas), 6) Pembelajaran problem-solving, dan 7) Model pembelajaran berbasis teknologi informasi.


Sebagai penutui dalam artikel diatas, kami sediakan video  Bincang inspiratif Mendikbud dengan Dirjen Vokasi pada Lokakarya Kepala SMK.


Terima Kasih, Semoga Bermanfaat.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Multimedia Pembelajaran Interaktif


Istilah multimedia secara etimologis berasal dari kata multi dan media. Multi berarti banyak atau jamak dan media berarti sarana untuk menyampaikan pesan atau informasi seperti teks, gambar, suara, video.

Jadi secara bahasa istilah multimedia adalah kombinasi banyak atau beberapa media seperti teks, gambar, suara, video yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. 

Definisi     multimedia      secara      terminologis      adalah kombinasi berbagai media seperti teks, gambar, suara, animasi, video dan lain-lain secara terpadu dan sinergis melalui komputer atau peralatan elektronik lain untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengertian interaktif adalah hal yang terkait dengan komunikasi dua arah / suatu hal bersifat saling melakukan aksi, saling aktif dan saling berhubungan serta mempunyai timbal balik antara satu dengan lainnya (Warsita:2008).

Pengertian multimedia pembelajaran interaktif atau selanjutnya disebut MPI adalah suatu program pembelajaran yang berisi kombinasi teks, gambar, grafik, suara, video, animasi, simulasi secara terpadu dan sinergis dengan bantuan perangkat komputer atau  sejenisnya untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dimana pengguna dapat secara aktif berinteraksi dengan program.

Video Pembuatan Pembelajaran Interaktif.


Level interaktivitas suatu MPI  menunjukkan  seberapa aktif pengguna dalam berinteraksi dengan  program. Tingkatan interaktivitas dalam MPI dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Navigasi Video/Audio
2. Navigasi Halaman
3. Kontrol Menu/Link
4. Kontrol Animasi
5. Hypermap
6. Respon/Feedback
7. Drag and Drop
8. Kontrol Simulasi
9. Kontrol Game

Ditunjukan pada video berikut ini :


STRATEGI PENYAJIAN MPI

1. Metode drill-and-practice

Program MPI drill and practice berisi rangkaian soal-soal latihan guna meningkatkan ketrampilan dan kecepatan berfikir pada mata pelajaran tertentu, biasanya adalah matematika dan bahasa asing (vocabulary). Alur metode drill and  practice  adalah  seperti  pada gambar di bawah (Alessi & Trollip, 2001).



2. Metode Tutorial
Dalam metode tutorial, komputer berperan layaknya sebagai seorang guru. Siswa  harus  bisa  berpartisipasi aktif dalam  proses  belajarnya  dengan  berinteraksi dengan komputer. Alur metode tutorial dapat dilihat pada gambar berikut (Alessi & Trollip, 2001).


3. Metode Simulasi

Program multimedia pembelajaran dengan metode simulasi memungkinkan siswa memanipulasi berbagai aspek dari sesuatu yang disimulasikan  tanpa  harus  menanggung  resiko  yang tidak menyenangkan. Alur metode simulasi adalah sebagai berikut (Alessi & Trollip, 2001).


Video Strategi Pembuatan Video Pembelajaran Interaktif:

Dalam pembelajaran di kelas, guru harus bisa mengelola siswa dan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam belajar.  Tetapi,  karena  MPI dimaksudkan untuk dipelajari siswa secara mandiri, maka pengembang MPI harus memikirkan bagaimana caranya meningkatkan motivasi belajar pada saat mempelajari MPI. Teori motivasi Maloni (1987) mengidentifikasi empat hal untuk mempertahankan agar siswa tetap termotivasi dalam pembelajaran, yaitu tantangan, keingintahuan, control, dan fantasi.



Video Komponen pada Multimedia Pembelajaran Interkatif


Terima kasih dan semoga bermanfaat.